Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2011

Kasus 1: Sekolah Mafia atau Mafia sekolah?

Bayu berkali-kali geleng-geleng kepala ketika menonton berita di televisi yang menceritakan tentang tawuran yang terjadi di sekolahnya pagi tadi. Sampai sekarang, dikatakan bahwa anak-anak pelaku tawuran tersebut belum tertangkap karena begitu gesitnya mereka kabur ketika polisi mendekati areal kerusuhan. Ibunya yang ikut menonton peristiwa ini hanya bisa ber-istigfar karena kelakuan anak-anak muda itu. Ayah Bayu, yang sedang tugas, sempat menelepon ke rumah dan menanyakan kabar Bayu. Pria itu kelihatan lega mendengar kabar bahwa anak sulungnya baik-baik saja dan dalam keadaan sehat wa'alfiat.

Enjih menutup HP-nya setelah mendengar ceramah panjang lebar dari ibunya. Bapaknya juga sempat sms supaya dirinya jangan keluar dari kompleks area perumahan TNI sampai mereka nanti datang menjemput. Kedua Orangtuanya benar-benar
takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak jika Enjih berani keluar untuk saat ini. Situasi saat ini masih kurang menguntungkan untuk anak-anak dari sekolah Perketi Luhur (nama sekolah ini hanyalah fiktif belaka).

Budi baru saja selesai sms pada adik perempuannya untuk mengabari kepada Abah dan Emak kalau dirinya baik-baik saja. Lita, Rina, dan Edo juga kini bergabung bersama Enjih, Bayu dan Budi, satu jam setelah mereka dikabari untuk segera datang ke rumah Bayu.

Ketiga anak itu sudah berada lebih dulu di sekolah saat penyerangan berlangsung sehingga, ketika ketiga kawannya mengontak mereka untuk segera pergi dari sekolah, mereka bertiga langsung memutar otak supaya bisa keluar dari sekolah tanpa ketahuan oleh para penyarang. Akhirnya, dengan suatu kesulitan tingkat tinggi serta kemampuan yang benar-benar diusahakan, ketiganya meminjam kostum dari pihak teater dan pergi dari sekolah. Edo -> sebagai orang gila, Rina -> mahasiswa, dan... Lita -> preman nyasar (^__^"). Mereka bertiga betul-betul gugup dengan penyamaran mereka sendiri sekalipun alhamdulillah..., mereka bisa lolos dari kejaran para pelaku tawuran.

"Ah..., aku dapat alasannya...!!" seruan Edo membuat perhatian orang-orang yang ada di depan ruang TV beralih kepadanya. Kini, tinggal mereka berenam yang ada di ruangan itu. Ibu Bayu sudah beralih ke dapur untuk memasak. Adik-adik Bayu sendiri masih bersekolah.

"Alasan apa?" Lita menyerngitkan dahi, penasaran.
"Alasan siswa SMA AdiLuhung (ini juga nama fiktif) menyerang sekolah kita," Edo menunjukkan HPnya pada kawan-kawannya. Mereka berlima langsung mengerubungi pemuda itu dan satu per satu membaca sms di kota masuk HP Edo secara bergiliran.

"Aku punya kawan dekat di SMA AdiLuhung," Edo mulai menjelaskan bagaimana dia mendapat informasi ini. "Dia temanku di SD dan SMP. Katanya..., dia juga kaget ketika Gurunya memberitahukan pada mereka kalau ada beberapa kawan mereka yang menyerang SMA kita. Jujur, dia prihatin dengan peristiwa ini. Saat kutanyakan alasan kawan-kawannya menyerang kita, dia menjawab kalau itu karena mantan pacar pimpinan Geng Kapak Hitam (Nama yang di-ilhami dari geng Kapak merah (-__-")) direbut oleh salah satu siswa kelas XII sekolah kita. Entah namanya siapa. Nah, merasa tidak terima, harga dirinya terenggut atau apalah, karena si ketua geng pengin balikan dengan mantannya, makanya... tawuran ini terjadi."

"Hanya karena itu...!!!" Rina ternganga mendengar penjelasan rincinya.
"Ya Tuhan...!!! Waktu yang bisa dipakai untuk menuntut ilmu jadi terbuang gara-gara masalah seperti itu...!!!" Enjih kembali mengumpat. "Duh Gusti....!!! Paringano bedil...!! Rasane pengin nembak bocah-bocah kuwi...!!" pemuda itu mengumpat lagi, marah-marah.
"AKu tak habis mengerti..., kenapa mereka menyerang kita hanya karena masalah ini," Lita geleng-geleng kepala. "Mereka itu sebenarnya niat sekolah atau cuma mau pamer kekuatan saja?" ia juga ikut-ikutan mengumpat.

Edo cuma bisa mengangkat kedua bahunya. Pikirannya juga sama seperti kawan-kawannya. Ia tak habis mengerti..., mengapa mereka tega menyerang sekolah mereka? Hanya karena satu orang yang mereka incar, hampir seluruh anak-anak di sekolah Pekerti Luhur kena batunya.

Bayu diam. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Gimana nih, Yu?" Enjih menatap kawannya dengan tatapan ingin balas dendam. "Rasanya..., aku pengin memukuli mereka satu per satu." Ia kelihatan tidak sabar untuk melampiaskan amarahnya pada kawanan berandalan kecil itu.
"Tenang dulu, Njih," Bayu melirik kawannya. "Kalau kita menyerang mereka dengan cara yang sama seperti mereka, itu membuat kita sama rendahnya seperti mereka." Ia menarik nafas dalam-dalam. Aura kepemimpinannya menguat. "Aku ada ide untuk memberi 'pelajaran' terhadap mereka." seringai senyuman sinis terbentuk di wajahnya yang terlihat ramah.

"Wah..., kami jadi tidak sabar mendengarkan rencananya, Ndan," Budi ikut-ikutan tersenyum. Kalau Bayu sudah menampilkan senyum tersinisnya seperti ini, itu berarti... dia punya ide cemerlang untuk pemecahan masalah mereka.
"Oke, Ndan! Kita siap bekerja kok!" tutur Edo bersemangat. Ia kelihatan tidak sabar untuk memulai aksinya.

Bayu tetap tersenyum. Ia menepuk bahu kanan Enjih. "Tapi... kita tidak bisa bekerja sendirian," terangnya. "Kita... butuh bantuan 'beberapa pihak'."

Bersambung....

Senin, 04 April 2011

Kasus 1: Sekolahan...

Berkali-kali Enjih menguap pelan saat berjalan malas menuju sekolahannya di ujung kampung sana. Pemuda itu masih terlihat mengantuk. Hmm..., efek gara-gara main game semalaman dengan adiknya (-__-"), akhirnya... dia jadi ogah-ogahan berangkat ke sekolah seperti ini. Sekali-kali, dia juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya..., kedua matanya juga masih berat buat diajak menuntut ilmu bareng-bareng. Wah..., siraman air dari Ibunya rupanya kurang tuh :D. Hehehehe..., nggak bangun-bangun juga padahal alarm sholat subuh udah berbunyi berkali-kali, si Ibu pun ambil segayung air kemudian menyiram Enjih supaya tuh anak bangun sampai-sampai..., tuh anak megap-megap sambil teriak-teriak kebanjiran gara-gara kaget. (^0^) (salah satu cara yang dilakukan orangtua kalau anaknya bangun kesiangan -__-").

Sebuah tepukan keras di bahu membuat Enjih meringis. Pemuda itu menoleh ke samping kanannya dan ternyata si Budi sama Bayu udah berada di sampingnya.

"Kenapa kamu? Kelihatan males banget?" Budi menyerngitkan dahi melihat Enjih kembali menguap.

"Semalam aku main game bersama adikku," jawab Enjih. "Sampe jam 1 pagi."

"Kalau Ibuku tahu jam 1 aku belum tidur, sangat diyakinkan kalau esoknya, peralatan gameku bakal disita," timpal Bayu.

"Makanya..., jangan sampai tahu, dong," balas Enjih datar.

"Sudah ngerjain Tugas Matematika?" Budi kembali bertanya.

Enjih mengangguk pelan. "Pagi tadi."

"Hei..., semangat dikit, dong," Budi menyenggol lengan kanannya. "Masa' kamu mau
ngantuk seperti ini terus dari pagi sampai siang."

Enjih diam, tidak menanggapi. Kalau lagi bad mood seperti ini dia memang lebih suka diam, tanpa berkata-kata. Sebentar lagi mereka sampai di tikungan kemudian jalan besar. Menyeberang, sampailah mereka di sekolah. Namun, pandangan ketiga pemuda itu berubah menjadi heran melihat sekawanan anak-anak berseragam seperti mereka, lari terburu-buru, menjauh dari sekolah. Beberapa mobil, motor, serta orang-orang juga terlihat sibuk berbalik arah.

"Hei...!! Hei...!! Ada apa ini?" Bayu menghentikan salah satu dari anak-anak itu. Dari bet yang dijahit di lengan kanannya, Bayu tahu kalau mereka siswa kelas satu.

"Anu..., Kak..., mending Kakak bertiga cepat pergi...!!" jawabnya terburu-buru dengan badan gemetaran. "Sekolah diserang...!! Tawuran, Kak...!! Tawuran...!!" setelah berkata seperti itu, dia buru-buru pergi menyelematkan diri bersama kawan-kawannya.

"Tawuran?" Budi menyerngitkan dahinya. Masa' sih?, pemuda itu berlari kecil, menuju ke tikungan untuk melihat kondisi yang sebenarnya. Begitu melihat di ujung gang sana, ekspresi wajah Budi berubah menjadi ketakutan. Siswa dari sekolah lain tengah menyerbu sekolah mereka, menyerang anak-anak sekolah dengan batu. Beberapa siswa dari sekolah Budi juga mengadakan perlawanan. Mereka balik menyerang.

Beberapa di antara siswa dari sekolah lain melihat Budi tengah memandangi mereka. lima dari gerombolan siswa penyerang itu berteriak, menunjuk ke arah Budi. Pemuda itu gelagapan ketika siswa-siswa itu mengejarnya sambil membawa senjata tajam. Dia langsung memberi isyarat pada kawan-kawannya untuk lari. Pertamanya, Bayu dan Enjih masih biasa saja ketika melihat Budi berlari ke arah mereka. Namun, begitu melihat para pengejar Budi, nyali keduanya langsung menciut. Serta merta, mereka bertiga lari tunggang -langgang menyelamatkan diri.

"Ke mana kita pergi?!" seru Budi dengan wajah pucat pasi. Dia membayangkan kalau dirinya bakal babak-beluk dihajar habis-habisan oleh para berandalan sekolah itu. Apalagi... mereka membawa senjata tajam. Bisa mati dia!!!

"Ke rumahku saja...!!!" seru Bayu lantang. "Mereka tidak akan berani masuk ke kompleks perumahan TNI...!!!" Ia makin mempercepat larinya. Hmmm..., rupanya latihan fisik yang sellau ditekankan Ayahnya setiap pagi berguna juga.

Mereka bertiga terus dan terus berlari sampai akhirnya tiba di gerbang kompleks perumahan TNI. Begitu masuk ke dalam, para pengejar langsung berhenti mengejar mereka. Kelima berandalan itu terlihat takut begitu melihat simbol-simbol TNI di kawasan perumahan itu. Haaa..., memangnya mereka mau dihukum oleh bapak-bapak anggota TNI?? Menghajar anak-anak itu di sana sama saja mereka cari mati!! Setelah berunding sejenak, kelimanya memutuskan kembali bergabung bersama kawan-kawan mereka.

Sementara itu, Budi dan kedua temannya masih terus berlari sampai akhirnya mereka tiba di titik yang dianggap aman. Beberapa Ibu-Ibu yang sedang menyapu halaman, menyerngitkan dahi melihat anak-anak berseragam itu berlari ngos-ngosan macam itu. Beberapa bapak-bapak anggota TNI juga sepertinya keheranan melihat mereka.

"HISH...!!" Enjih mengumpat kesal. "Siapa sih mereka...?! Berani-beraninya mereka menyerang sekolah kita...?!" gerutunya sebal. Ia bisa menjamin, sekolah hari ini pasti diliburkan.

Budi berusaha mengatur pernafasannya. "Dari atribut seragam mereka..., aku rasa... mereka siswa..."

"Mereka bukan siswa," potong Bayu sengit. "Mereka itu berandalan tidak tahu aturan yang tidak punya peradaban...!!" gerutunya marah.

Budia diam sejenak. Ia membiarkan kedua kawannya marah-marah terlebih dahulu. Setelah keduanya lumayan tenang, baru Budi melanjutkan kata-katanya kembali. "Mereka sepertinya dari SMA XXXX. Aku kenal baik atribut seragam mereka."

"Ya Tuhan...!!" keluh Enjih kesal. "Apalagi yang mereka ributkan dari kita?" gigi-giginya bergemelutuk keras.

Budi mengangkat bahu, tidak tahu.

"Aku rasa..., kita harus cari tahu tentang masalah ini," tukas Bayu. "Bagaimana kalau sekarang juga kita berkumpul? Coba sms Rina, Edo, dan juga Lita. Minta mereka untuk datang ke rumahku secepat mungkin." perintahnya dengan logat yang khas.

Budi dan Enjih mengangguk mematuhi.

Bersambung....

Sabtu, 19 Maret 2011

Angin Tak Patah Semangat

Bayu mondar-mandir di halaman belakang rumahnya. Pemuda cepak berkaos biru dengan celana panjang warna hitam itu beberapa kali menge-cek makanan serta minuman yang tersaji di atas meja panjang. Hmmm..., es teh, ada. biskuit, ada. trus..., tempe gembus, ada. Setelah itu..., jeruk sama pisang, juga ada. Oke... oke..., sekarang dia nggak perlu resah karena semua makanan kesukaan beberapa kawannya sudah siap. Ehm..., lalu apalagi, ya? Oh, ya..., buku catatan sama perlatan nulisnya juga udah. Sekarang..., Bayu berhenti mondar-mandir. Ia diam, berpikir. Adik perempuannya, Nia, yang umurnya baru 10 tahun, cuma menatapnya dengan tatapan heran. Mungkin.., yang ada di pikirannya adalah... 'Kakaknya ini ngapain, sih? Dari tadi kok mondar-mandir mulu?' (^___^")

"Ting... Tong...!!!"
terdengar bunyi bel di luar rumah. Bayu langsung sigap. Ia berlari ke halaman samping rumahnya sampai membuat Nia kaget.
Pemuda itu tampak cekatan membuka pintu pagar halaman samping rumah yang langsung menembus halaman depan rumah (hayo..., kira-kira bisa membayangkan desain rumahnya apa nggak? (^___^)).

Wajahnya kelihatan sumringah ketika melihat Budi, Enjih, dan Rina sudah tiba lebih dulu. "Dari tadi aku nungguin kalian lho," ia tersenyum lebar. Wajahnya jadi terlihat menyenangkan jika sedang tersenyum seperti ini.

"Ah...., Bayu kangen sama aku, ya?" Enjih berlari-lari ringan dengan 'gaya' menggodanya yang khas.

Ekspresi wajah Bayu langsung berubah. "Mau kukarungin? Di rumah kebetulan banyak karung beras kosong lho," ucapnya dengan nada serta mimik muka yang mengerikan.

Enjih langsung tertawa dan berhenti tepat didepan dengan Bayu. "Sabar, bro," Dia menepuk pundak pemuda itu kemudian berjabat tangan dengannya. "Aku 'kan cuma bercanda." Ia lalu menambahkan. "Lagian..., kamu 'kan udah tau gaya bercandaku." imbuhnya dengan nada centil.

Bayu langsung membanting keras-keras jabatan tangan Enjih sampai pemuda itu meringis sakit. Anak sulung dari empat bersaudara itu langsung 'ngamuk-ngamuk' nggak karuan. Enjih yang tadinya pengin ngerutuki kawannya malah tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Bayu yang jijay plus risih.

Budi dan Rani saling bertatapan. Keduanya terlihat ingi tertawa tapi takut Bayu makin marah-marah. Jujur saja..., lawakan Enjih pada Bayu sama sekali nggak berubah. Sekalipun Enjih tahu kalau kawannya ini nggak suka digodain seperti itu, tapi... dasarnya dia suka usil, tetep aja digodain seperti itu. (^___^")

"Kalian itu memang akrab sekali, ya. Aku jadi iri," giliran Budi yang meniru gaya Enjih tadi. Baru saja dia mau berlari kecil menghampiri Bayu tetapi dia langsung diam mematung di tempat gara-gara Bayu menatapnya dengan tatapan ingin membunuh.

Rina tertawa melihat keadaan ini. "Sudah, sudah. Kapan mau belajarnya kalau kalian dari tadi main melulu?"

"Salahkan dua unyil ini. Dari tadi mereka menggodaku melulu," ujar Bayu kesal.
"Ah..., kami 'kan cuma bercanda," tukas Budi dan Enjih bersamaan.

Bayu melotot ke arah mereka berdua.

"Oh, ya..., Lita dan Edo mana? Mereka belum datang?" Budi menatapnya.
"Baru kalian yang datang. Mungkin... mereka agak sedikit terlambat," jawab Bayu sambil memiting Enjih karena kawannya ini mulai merayu dia lagi. Enjih sendiri tertawa terpingkal-pingkal karena sikap Bayu.
"Hoooo..." Budi dan Rina ber-koor secara serempak.

Namun..., tak sampai lima menit. Kedua orang yang dibicarakan datang bersama sepeda mereka. Bayu terlihat senang karena kawan-kawannya telah berkumpul. Setelah ber-haha-hihi sejenak karena sudah lama tidak pernah bertemu (padahal..., mereka cuma nggak ketemuan selama seminggu!!) Keenam anak itu pun pergi menuju ke halaman belakang rumah Bayu yang luas. (Maklum..., halaman belakang rumah Bayu itu kebon luas yang ditanami berbagai macam pohon buah dan sayur-sayuran (^___^). Lebih enakan ngumpul di tempat itu daripada di tempat lain. Soalnya... anggaran terbatas).

Enjih berlari mendahului kawan-kawannya. Dia tampak paling senang sendiri karena tempe gembus kesukaannya sudah dihidangkan. Si Edo mengelus-elus perutnya. Perutnya udah lapar minta diisi buah atau roti. Lita sendiri kelihatan cerewet mengomentari keadaan si Budi yang dari dulu nggak pernah berubah, tetap ceking (kurus kering). Rina bercakap-cakap dengan Bayu, membicarakan masalah anggaran kelompok yang makin menipis.

Begitu mereka sampai di halaman belakang dan duduk di tempat masing-masing, mulailah mereka berdiskusi bersama sambil mecomot makanan yang ada di atas meja. Rina mengeluarkan notebooknya serta beberapa artikel yang sudah ia gunting. Lita mengambil pena serta buku catatannya. Edo, hmmm... yang ini juga jelas mengeluarkan laptop serta modemnya. Nah... mereka bertiga mulai sibuk merancang apa yang akan mereka rencanakan bersama si Bayu.

Lha..., Budi sama Enjih... (^___^")..., ehm... keduanya seperti penggembira aja dalam kelompok itu. Eits..., tapi jangan salah, mereka berdua itu justru punya 'tugas' yang paling penting, lho... (^___^), yaitu... 'petugas lapangan'. Hehehehe..., yang jelas bukan motongin rumput lho.

-> Next episode..., Kasus 1.

Kamis, 10 Maret 2011

Si Pencari Data

Gadis berambut lurus sepunggung itu tampak asyik berada di depan layar komputernya. Beberapa kali dia tertawa kecil membaca pesan dari kawannya di dunia maya. Jari-jarinya tampak lincah mengetik huruf-huruf dari keyboard. Kedua matanya yang bulat dan berwarna hitam memandang layar tanpa berkedip sampe akhirnya... dia kepedesan sendiri.

free@book: "Hei..., sudah hampir jam setengah 4. Kamu tidak siap-siap pergi ke tempat temanmu?"
Tan_ti: "Eh..., iya, ya. Wah... padahal aku masih pengin ngomong banyak ma kamu :("

free@book: "Hahahaha..., :D udah..., sekarang siap-siap, gih. Ntar temenmu malah marah-marah karena kamunya telat."
Tan_ti: "Ah..., mereka marah udah wajar, kok. Lagipula, ada yang telatnya lebih parah dari aku."

free@book: "Siapa? Enjih?"
Tan_ti: "Bukan. Itu tuh..., si Budi."

free@book: "Temenmu yang bercita-cita jadi agen itu, ya?"
Tan_ti: "Iya. Agen nggak jels itu. Tp..., salut juga ma cita-citanya, sih. katanya..., dia pengin mbuka perusahaan yang membawahi banyak agen."

free@book: "Pffft..., wkwkwkw..., kau punya teman-teman yang unik, ya."
Tan_ti: "Saking uniknya, kami juga kadang-kadang nggak bisa nyambung satu sama lain. Eh..., udahan, ya. Aku mau pergi ke rumah Bayu."

free@book: "Oke, Non. Hati-hati, ya."
Tan_ti: "Iya, makasih :)."

"Huuft...," Lita menghela nafas panjang sambil mematikan aplikasi chattingnya. Setelah itu, ia men-shut down komputernya. Gadis yang sekelas dengan Bayu dan Enjih itu lalu mandi setelah itu ia memakai kaos putih lengan panjang yang dipadukan dengan rompi hitam dan celana panjang berwarna biru tua. Selesai bersiap-siap, ia pun keluar dari kamarnya.

"Ahh..." Lita bertemu dengan Ibunya di ruang tamu. "Ibu..., aku pergi ke rumah Bayu dulu, ya." pamitnya.

Wanita yang sedang asyik membaca majalah itu melirik ke arah Lita sedikit. Kemudian, ia membaca majalahnya lagi. Gadis itu terdiam melihat reaksi Ibunya. Dengan perasaan tak enak, ia melangkah gontai menuju garasi rumah dan mengambil sepedanya. Dikayuhnya sepeda warna hitam kinclong itu dengan enggan.

"Mengapa kau harus lahir...?! Mengapa kau harus memberi beban pada Ibu...!!"
Sorot matanya terlihat sedih mengingat kata-kata Ibunya beberapa waktu yang lalu itu.

Bukan keinginanku lahir dari rahim Ibu. Mengapa Ibu menyalahkan kelahiranku atas apa yang terjadi pada diri Ibu? Seandainya aku bisa memilih... aku pun juga tidak ingin lahir dalam keluarga seperti ini. klakson mobil di belakang membuatnya agak menepi ke jalan. Ibu... mengapa kau tak bisa menyayangiku?

Sabtu, 26 Februari 2011

Sang Penjelajah Maya

"Huft..!!" Seorang pemuda berkacamata menghela nafas panjang setelah mematikan laptop hitamnya. "Browsing hampir setengah hari penuh ternyata melelahkan juga..." Ia berdiri dari tempatnya duduk dan menggerak-gerakkan badannya. Terdengar bunyi 'kretek-kretek' dari tulangnya.
"Hmmm..., sebentar lagi waktunya kumpul, ya?" ia menggumam lagi sewaktu melihat jam dinding dalam kamarnya. "Siap-siap dulu, ah..." Pemuda berambut pendek itu (Hemm..., memang kebanyakan anak sekolah berambut pendek 'kan? Kalau berambut panjang, bisa-bisa urusan ma BK (-__-") waduuh...).
Seekor kucing putih melompat dari atas kasurnya dan pergi keluar sewaktu melihat majikannya hendak pergi keluar. Edo sendiri ngeloyor keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar mandi, bersiap-siap pergi ke rumah Bayu. Tak lama setelah mandi, dia pun memakai pakaian kesukaannya. T-shirt putih lengan pendek dipadukan dengan jaket yang mirip rompi warna biru tua serta celana panjang yang warnanya sama seperti warna rompinya.
Pemuda itu memakai kacamatanya lagi. Sesudah selesai berdandan (bukan dandan ala cewek), Edo mengambil laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Setelah itu, tanpa ba bi bu be bo..., bocah itu berpamitan pada Orangtuanya, ambil sepeda di garasi rumah trus ngeloyor pergi. Kerpergiannya itu disambut suara eongan Whiter, nama kucingnya, di teras rumah. Sepertinya..., tuh kucing kelihatan kagak rela ditinggalin ma majikannya. Jangan-jangan... Edo lupa mberi dia makan, ya?
Dengan hati riang dan gembira, Edo mengayuh sepeda birunya yang bermerk -sensor-. Haaahh..., sore ini terasa begitu menyenangkan bagi dia, entah kenapa. Rasanya perasaannya begitu ringan dan senang. Yah..., maklumlah..., seharian setelah berkutat dengan yang namanya laptop trus sekarang pergi main ke tempat temannya, dia merasa memiliki kehidupan lain. Hahahaha...., perlu diketahui Edo ini sangat suka sekali browsing komputer. Aslinya dia kagak tahu apa-apa tentang komputer atau yang berhubungan dengan itu. Hanya saja..., dia suka sekali membaca-mbaca artikel baru di internet. Bagi dia..., banyak membaca, banyak rejeki (^___^). Lho..., salah... maksudnya banyak ilmu...
Edo... memiliki nama lengkap Satria Edo Wibawa. Anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya perempuan dan adiknya laki-laki. Suka sekali membaca sampai-sampai kalau di meja makan pun dia bawa buku (Itu sering membuat Ibunya marmos karena Edo jadi lelet makannya). Sekelas dengan Bayu, Budi, Rina, Enjih, dan Lita. Keahliannya sangat banyak dari doyan ngabisin jajanan orang lain, tahan depan komputer seharian, nyampek bergaya ala silat-silat nggak jelas dia juga bisa. (^___^). Tapi yang jelas... keahlian utamanya adalah berpikir soalnya... dia doyan banget yang namanya mecahin masalah sampai-sampai kalau nggak bisa nyelesain masalah, dia bisa mecahin gelas minumannya karena nggak konsen makan ama minum.

Kamis, 17 Februari 2011

Si Pengelana Bebas

Sesosok Pemuda kurus, jangkung, serta berambut pendek (di sekolah nggak boleh berambut panjang), tampak santai tiduran di bangku taman sambil mendengarkan musik lewat Headsetnya. Kaki kirinya yang berada di atas kaki kanan, menghentak-hentak di udara. Bibirnya mengikuti lirik dari musik yang didengarnya sementara kedua tangannya bergerak-gerak di udara, mengikuti irama musik.

Beberapa orang yang lewat dan... ada beberapa juga yang sedang nongkrong di taman kelurahan, memandang pemuda berjaket hijau dan bercelana panjang biru itu dengan pandangan aneh. Mereka merasa heran, ada juga orang 'se-pede' itu di wilayah publik macam ini. (hmmm..., memang sih..., (^___^") dia cuek bebek dengan lalu-lalang orang-orang di taman kelurahan). Gayanya mirip seperti anak bebas yang nggak punya sopan santun. Tapi, sebenarnya...

Ponselnya berdering ringan. Nada dering smsnya.... Assalammu'alaikumnya opick?? Beberapa orang melongo mendengar itu. Sebentar, sebentar, mereka ini nggak salah denger 'kan? Pendengaran mereka masih bagus 'kan? Lho... tapi anak seperti itu, kok... punya lagi religius macam itu?? beberapa orang saling berpandangan dengan heran. Ah...!! Tau deh...

From: Bayu
'Enjih..., ntar jadi lho..., dateng ke rumahku jam empat sore. Awas kalau kamu nggak dateng! Besok di sekolah bakal aku cekokin sama tempe gembus pesenanmu!'


Enjih atau yang memiliki nama asli Adi Pratama Bimakusumo, terkekeh ringan membaca sms dari sahabatnya, Bayu. Dengan segera, dia membalas sms Bayu.

From: Enjih
'Hahahaha..., jadi tempe gembus pesenanku jadi dibeliin, toh? Wah..., oke2, ntar abis sholat ashar aku ke sana, deh. ^__^
Thanks, Bayu sayang.'


Enjih tertawa-tawa sambil duduk di bangku taman. Ia yakin, sahabatnya ini pasti marah-marah gara-gara dipanggil 'sayang'. Bayu pasti jijay plus merinding dengan kata-katanya itu. Tak berapa lama ponselnya berdering lagi.

From: Bayu
'PREEETTT...!! Risih aku, kamu panggil sayang-sayang. Mending si Juwita yang manggil aku sayang. Masih toleran. Kalau kamu, Hiiiii..... sumpah! Jijay banget!'


Enjih tertawa terpingkal-pingkal membaca balasan dari kawannya sampai-sampai beberapa orang memandangnya aneh. Sinting kali nih bocah?? Setelah itu..., Enjih mengambil tas selempangnya dan memakai sepasang sepatunya yang... kayaknya sudah dekil. (-___-"). Hmmm..., Orangtuanya udah sering berkoar-koar supaya sepatu itu dibuang tapi, Enjih nggak mau membuangnya, alesannya, itu sepatu yang paling dia... kasihi??

Enjih beranjak dari tempatnya duduk, menuju Masjid kompleks rumahnya untuk sholat Ashar berjama'ah. Memang..., waktu sebentar lagi memasuki waktu Ashar. Dia pun bernyanyi ringan. Dan... lagu yang dinyanyikannya..... Lagu religius???? Orang-orang benar-benar ndlongop menyaksikan tingkah anak itu. Hmmm...., dandanan boleh mirip kayak preman tetapi... hatinya ternyata...

Enjih atau Adi Pratama Bimakusumo, lahir dari pasangan suami-istri Rahmat Bimakusumo dan Lastri Endah Ningtyas. Ayahnya, Pak Rahmat, bekerja di Dinas Kepolisian. Sedangkan Ibunya, Bu lastri, merupakan Guru Kewarganegaraan di sebuah SMA Negeri ternama di mana... disitu Enjih juga bersekolah. O, ya..., kenapa kok Adi bisa dipanggil Enjih? Itu... karena... dulu waktu kecil, dia terbiasa bilang 'Enjih, Enjih' kalau diperintah Bapak-Ibunya.

Ayah Enjih cukup protektif pada ketiga anaknya (kedua adik Enjih juga laki-laki). Beliau sama sekali tidak mau kalau ketiga anaknya jadi seorang pemberontak dan suka seenaknya pada Orangtua. Karena itu, beliau menerapkan disiplin yang lumayan keras kepada ketiganya. Sampai-sampai, dulu waktu kecil, Enjih jadi ketakutan sendiri kalau berbuat salah sedikit.

Namun, sikap keras Bapaknya itu lama-kelamaan berkurang seiring anak-anaknya tumbuh besar. Paling-paling, kalau Enjih misalnya melanggar disiplin jam malamnya, dia akan disetrap di depan rumah, diceramahin macam-macam selama satu jam terus... baru dibolehin tidur. Nah..., Setelah mereka berdua masuk ke rumah, giliran Bapaknya yang diomelin Ibunya di dalam kamar. Karena..., Yah... biasa, Ibunya nggak setuju kalau Ayahnya terlalu 'parno' sama Enjih. Lagipula, Enjih 'kan laki-laki, beda dengan perempuan. Hmmm..., Bapaknya memang pengin banget punya anak perempuan sih...
(Lho..., apa hubungannya? (^___^"))

Sementara Orangtuanya sibuk bertengkar, Enjih masuk ke kamarnya tutup telinga dan.... tidur (^___^). Bagi dia... males banget kalau harus ngedengerin Ortu bertengkar. Toh..., ujung-ujungnya pasti Orangtuanya.... baikan lagi.

Enjih bersenandung ringan, menyanyikan lagu 'Taffakur'-nya opick. Dia kelihatan menghayati banget. Sampe-sampe, beberapa Bapak-bapak yang mau pergi ke Masjid geleng-geleng kepala. (^__^)

Rabu, 16 Februari 2011

Pengejar Tanpa Batas

"Setiap apa yang terjadi..., merupakan informasi yang patut direkam dan ditulis. Apa yang telah terjadi... adalah pembelajaran untuk masa depan yang lebih baik. Informasi... merupakan sesuatu yang penting dan berharga. Namun... terkadang.... dengan sedikit intrik dan kecerdikan, informasi itu bisa dirubah sesuai keinginan si pemegang informasi."

Rina mengutak-atik kamera barunya. Beberapa kali, ia megambil gambar di taman kota yang indah. Gadis itu sama sekali tak mempedulikan teriknya sinar matahari siang yang panas. Ia masih saja asyik mengambil beberapa gambar di taman itu. Sesekali, itu tersenyum dan tertawa melihat hasil jepretannya yang lucu atau kurang bagus.

"Aku... ingin menjadi jurnalis profesional."
***
Beberapa kali, Rina menekan tombol delete pada notebook hitamnya. Ia berpikir sejenak, kemudian menulis kembali mengenai keindahan taman kota. Hmmm..., Rina sedang menyelesaikan tulisannya. Gadis berambut ikal panjang dan dikuncir itu tengah mengerjakan hobinya di salah satu bangku taman yang ada di bawah pohon besar. Ia lalu mengambil sebuah gambar dari foto taman kota yang diambilnya. Dicarinya foto yang paling bagus dan ditempelkannya pada artikelnya.

Haaahh..., dia kelihatan puas dengan hasil karyanya ini. Dibacanya beberapa kali, pekerjaannya berulang-ulang sesudah disimpan dalam memori notebook.

"RRR...RRR...!!"
ponselnya bergetar ringan. Rina segera mengambil ponsel kecil yang ada di sampingnya itu.

"Halo..." sapanya. Kedua matanya masih terfokus pada layar komputer dan jari telunjuk tangan kanannya menekan tombol 'down' di notebook.

"Ah..., aku tak bisa ke sana sekarang, Yu," jawabnya. "Saat ini aku sedang menyelesaikan tulisanku. Kenapa kau tak menyuruh Budi saja untuk datang?"

Rina diam sejenak, mendengar jawaban diseberangnya. "Oh..., dia kena masalah lagi, ya?" ia mengangguk-angguk. Kemudian, menghela nafas panjang. "Kapan tuh anak bisa sadar kalau gaya nyentriknya waktu mengantar koran tuh kelak bisa benar-benar jadi 'masalah', ya..."

Suara di seberang telepon menanggapi kata-katanya. Ucapannya membuat Rina tertawa lepas. "Kau ini ada-ada saja, Bay. Kawan sendiri kau rutuki begitu."

"Iya... aku tahu kadang kau sebal dengan dia. Tapi... liat positifnya, deh. Budi tuh bukan tipikal orang yang pantang nyerah gitu aja." Rina terkekeh ringan mendengar Bayu menggerutu di seberang telepon.

"Ya, sudah. Nanti sore... kita semua berkumpul 'kan? Kita bahas masalah yang ada di tempat biasa. Bagaimana?" tawarnya.

Bayu mengiyakan di ujung telepon sana.

"Oke. Kalau begitu, tunggu nanti sore, ya," kata Rina sebelum menutup teleponnya.
"TUUUTT...!!"
Sambungan terputus.

Rina memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia lalu menekan tombol 'shut down' pada notebooknya. Setelah benda kecil itu mati, ia lalu memasukkan notebooknya ke dalam tas ransel hitamnya yang lumayan agak besar. Setelah itu, sambil membawa kameranya, gadis itu berlalu dari taman kota.

Jalan memang masih setapak. Jalurnya panjang tak tahu batasnya. Namun, aku selalu percaya... bahwa suatu saat ini... akan menemukan ujungnya. Aku akan menemukan sebuah titik... di mana aku bisa keluar dari tempat ini.

Senin, 14 Februari 2011

Semangat Cita-cita

Tak pernah sekalipun, aku membayangkan akan mendapatkan pekerjaan ini.

Seorang pemuda berumur delapan belas tahunan memakai jaket hitamnya. Kemudian, memakai sepatu hitamnya yang telah disemir kinclong. Ia mempersiapkan paginya dengan cermat dan tanpa keraguan sedikitpun.

Ini adalah pilihanku dan aku harus mempertanggungjawabkan apa yang kupilih.

Ia keluar dari dalam rumahnya dan melangkah menyusuri trotoar depan rumah dengan cepat. Matahari belum menyapa seluruh penduduk di perkotaan sehingga sebagian di antara mereka masih terlelap nyenyak di kamar masing-masing.

Tak ada keraguan yang harus kubebankan pada diri ini. Ia menyambar kendaraannya dengan cepat. Sebagai seorang agen... aku harus cermat dan teliti. Tak boleh ceroboh sama sekali dalam tugas ini. pemuda itu menyambar sebuah sepeda biru tua yang tergeletak di samping sebuah rumah kayu tua yang tampak ramai dan agak ribut. Ia lalu memakai kacamata normalnya. Dan...

"BUDIII!!!!! Jangan sekali-sekali pakai sepedaku...!!" sebuah suara terdengar melengking tinggi dari dalam rumah kayu tua. "Pakai sepeda yang merah-hitam aja!" suara itu kembali terdengar.

Ah..., baiklah..., Budi, pemuda berambut cepak yang kurus-kering hampir mirip seperti orang kekurangan gizi padahal dia sehat wal'afiat, mendengus pelan. Diletakkannya sepeda biru tua itu dan dituntunnya sepeda merah-hitam yang diparkir di samping sepeda biru tua. Ia lalu mengambil tas hitamnya yang sudah dipenuhi oleh koran-koran baru. Setelah itu, ia menaiki sepedanya dan mulai menggenjotnya dengan susah-payah (habisnya.... ban belakangnya agak kempes sih...).

Yah..., beginilah keseharian budi, jadi 'agen' loper koran yang tiap pagi nganterin koran ke tempat pelanggan. Dengan berbagai tehnik (dia terobsesi untuk menjadi intelijen), dia berusaha mengirimkn koran-koran itu dengan cara yang unik atau... bisa dikatakan oleh orang-orang.... Aneh!

Bagaimana bisa tidak dikatan aneh, lha wong ngelempar koran ke halaman orang saja... dia pakai macam-macam gaya. Kadang gaya batu (pake batu beneran yang dililitkan ke batu), yang menghasilkan... kaca pecah (-__-") sampai pemilik rumah komplain ke agen penyalur koran gara-gara ulah Budi. Apes bagi Budi..., dia... akhirnya potong gaji untuk membayar kerugian pelanggan.

Ada juga gaya seperti orang mau melakukan tembakan three point, bukanne korannya masuk ke halaman yang bener eh..., malah nimpuk anjing penjaga rumah nyampek dia dikejar-kejar keliling kompleks sama tuh anjing. Ada lagi gaya mengendap-endapnya (meniru gaya para intelijen yang serba diam-diam), sewaktu hampir selesai melaksanakan misinya (meletakkan koran di halaman pelanggan) lhah..., dianya malah disangka maling nyampe dikejar-kejar sama satpam kompleks rumah. Haduh... (^__^")

Sekalipun berbagai kejadian buruk menimpanya sewaktu melaksanakan tugas (nganterin koran) Budi tetap bersemangat untuk melaksanakan kegiatannya sekalipun bahaya menantang (dikejar anjing, dikejar satpam, sepedanya kepeleset, dll). Pemuda itu tetap bertekad untuk menjadi agen yang lebih terkenal lagi (Agen buku, agen air minum, agen listrik??) dengan gayanya yang nyentrik itu. Hmmm..., semangatnya berkoar untuk melaksanakan itu! Gara-gara keseringan nonton film tentang agen-agen itu... akhirnya... dia juga bercita-cita jadi agen juga.

-bingung-