Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Juni 2013

Episode 1 : Di balik Kacamata


Kebetulan aku sedang capek dan mendadak ada inspirasi membuat cerpen ini. Iseng saja, aku membuat cerpen yang juga ku-post di note fbku. Selamat menikmati semuanya ^^

=======================================

Kenalkan, namaku Bagas. Lengkapnya, Bagas Satrio Wibawa. Aku ini hanya tokoh fiktif rekaan pengarang. (Sebetulnya pengarangnya udah wanti-wanti sama aku sih supaya gak buka identitas terlalu jauh. Tapi apa daya, jujur itu lebih baik. Toh, aku juga hanya tokoh fiktif). Aku diset sebagai anak laki-laki yang baru saja lulus SMP dan sekarang masuk SMA. (Menurut analisaku, si pengarang sengaja nge-set aku sebagai siswa baru supaya dia bisa jaga-jaga untuk membuat ceritanya lebih lebar. Kalian tahu sendiri 'kan, biasanya murid baru itu tokoh yang paling gampang di-bully sama senior-senior di sekolah. Tapi, apa pun yang diinginkan pengarang padaku, jangan harap dia bisa seenaknya bully  aku titik, gak pake koma.).

Berhubung pengarangnya lagi pusing ngerjain skripsi (aduh, maaf, mbak, nggak sengaja keceplosan. Eh, ini juga nyeplos identitas pengarang ya? Waduh, alamat aku bakal kena omelan pengarang nih), jadi waktunya akan dimajukan sekitar dua bulanan setelah aku mengikuti MOS. (Maaf, ye, kalian jadi nggak bisa liat masa-masa MOSku). Oke, gimana kalau langsung ke cerita aja? Kelamaan pembuka seperti ini, nanti malah keceplosan hal lain-lain lagi dah. Bisa-bisa aku malah curhat sama kalian.

Ya sudah, mari kita ke bagian ceritanya saja.

***

Sekolahnya tak berbeda dengan sekolah-sekolah lain pada umumnya. Bangunannya besar dan luas, warnanya pun krem cerah, seperti bangunan sekolah-sekolah lain. Di beberapa bagian, terdapat halaman yang ditumbuhi pohon-pohon peneduh. Pada papan nama di bagian gerbang depan sekolah tertulis, 'SMA N 1 Jaya Sentosa'. Entah apa maksud dari nama itu, tetapi... berulang-kali dibaca pun, nama sekolah itu mirip seperti nama bis jurusan. (Nama sekolah ini pun fiktif). Keorganisasian siswa di SMA ini juga sama seperti SMA-SMA lain. Ada OSIS, Passus (Pasukan Kedisiplinan Sekolah), Pramuka, PMR, dan lain-lain. Tak ada hal yang aneh dengan sekolah ini. Semua biasa-biasa saja. Ya, itulah yang tampak di depan mata.

Pemuda berkacamata itu menatap orang di depannya dengan pandangan berani. Pada lengan kanannnya terjahit bet tingkat satu berwarna merah, berbeda dengan bet tingkat dua berwarna hijau yang terjahit di lengan seragam orang di hadapannya.

"Saya hanya ingin mewawancara ketua Pasus. Kenapa tidak boleh, Kak?" Bagas menatap kesal senior di hadapannya.

Pemuda berambut cepak yang berdiri di depan pintu masuk ruang Pasus berdecak pelan. "Kan sudah dibilang, Wirya tidak ada di sini. Wirya baru keluar, sedang mengikuti rapat OSIS."

"Masa'?" Bagas memandangnya kesal. "Rapat OSIS 'kan sudah selesai sekitar sepuluh menit yang lalu. Nggak mungkin-lah kalau Mas Wirya masih di ruang rapat."

"Ish," Yudha kelihatan kesal dengan kengototan adik kelasnya ini. "Wirya memang nggak ada di dalam. Kalau kamu mau ngecek, cek saja di ruang OSIS. Kalau kamu mau nunggu, tunggu saja di luar. Selain anggota, tidak ada yang boleh masuk ke ruang Pasus." ia mengetuk-ngetuk pintu ruangan yang tertutup, menunjuk ke arah stiker yang terpasang di depan pintu.

Bagas kelihatan keki. Ada apa sih dengan anggota-anggota Pasus? Kenapa susah sekali bagi mereka untuk bersikap ramah dengan siswa lain yang notabene siswa biasa. Apalagi dia ini wartawan, wartawan sekolah! Harusnya, anggota Pasus berbaik hati dengan wartawan sekolah. Tidak bersikap ketus seperti ini. Di era modern yang mengandalkan informasi, harusnya Pasus membuat pencitraan yang baik di depan wartawan. Tapi itu harusnya, nyatanya, rata-rata anggota Pasus selalu sukses membuat para reporter sekolah keki karena seringkali susah dimintai komentar atau 'komprominya'. Karena itu, anggota surat kabar sekolah memberi julukan pada organisasi ini sebagai, 'The Judes Organization'.

Seperti yang dikatakan pimpinan redaksi surat kabar, dia tidak akan mudah mendapat informasi dari ketua Pasus. Beberapa kali Wirya memang berkelit saat dimintai waktunya untuk wawancara. Namun, setelah sekian hari menunggu dan mendesak, akhinya Wirya memberikan waktunya untuk diwawancara Bagas. Namun, dia memberi syarat, bila Bagas terlambat datang, maka wawancara batal. Berhari-hari penantiannya untuk mengorek informasi dari Wirya, bagaimana mungkin dia melepaskan momen bagus ini?! Sebagai anak baru di surat kabar sekolah, dia tidak akan menyerah begitu saja dengan halangan ini. Dia harus mendapat informasi ini!

"Mas Wirya ada di dalam 'kan, Mas? Aku tadi lihat Mas Wirya masuk ke sini," Bagas tetap berkeras untuk masuk.

Yudha melotot ke arahnya. Ini anak, sudah dibilang kalau ketuanya nggak ada di dalam, kok masih ngotot saja pengin masuk. Lama-lama Yudha keki juga menghadapi Bagas.

"Sudah..." kata-katanya tertahan di mulut saat melihat Wirya datang bersama beberapa anggota Pasus. "Tuh, lihat, Wirya baru datang." dengusnya kesal sambil menunjuk ke belakang Bagas dengan dagunya.

Bagas menoleh ke belakang. Sekawanan siswa yang mengenakan seragam sama sepertinya, tetapi dengan bet yang agak berbeda di lengan kiri, berjalan ke arah ruang Pasus. Wirya, pemuda bertubuh jangkung dan bermata hitam tajam, berjalan dengan raut wajah lesu. Langkahnya lambat dan kedua bahunya turun.

Bagas mengerutkan dahi melihat sikap tubuh kakak kelasnya ini. Apa terjadi sesuatu tadi, saat rapat tertutup antara OSIS dengan Pasus?

"Wirya!" Yudha memanggilnya sambil melambai ke arah ketuanya.

Pandangan pemuda itu, yang semula tertunduk, pun terangkat. Perhatiannya langsung tertuju pada Bagas, anggota surat kabar sekolah. Sejenak, senyum mengembang di wajah Wirya. Pemuda itu pun menghampiri juniornya.

"Wah, kau datang tepat waktu sekali," komentar Wirya sambil berjabat tangan dengannya.

Bagas cuma meringis. Ingin rasanya dia mencibir mengenai keterlambatan Wirya, tetapi ditahannya lidahnya kuat-kuat, tak mau membuat perburuan beritanya gagal.

"Ayo masuk. Sesuai janjiku, kau bisa mewawancaraiku," Wirya masuk ke dalam.

Bagas tersenyum bersemangat. Ia melirik sekilas ke arah Yudha, melemparkan senyum penuh kemenangan, membuat kakak kelasnya memberengut kesal. Ruang Pasus terdiri dari ruang tamu dan ruang ketua. Di dalam ruang tamu, terpajang berbagai fotokopi penghargaan yang pernah dimenangi Pasus dalam perlombaan kedisiplinan antar sekolah. Bagas mengernyit, kira-kira... apa ada perlombaan bagi surat kabar antar sekolah ya?Setelah masuk ke ruang ketua, Bagas duduk di kursi di seberang meja Wirya.

Ruangan Wirya tampak sederhana sekali, hanya ada meja, kursi, kalender, serta bendera Pasus, sekolah, dan bendera Negara di salah satu sudut ruangan. Ketiga bendera itu bersisian dengan bendera merah-putih berada di tengah-tengah dan diikat pada tongkat yang paling tinggi.

"Jadi, informasi apa yang diinginkan surat kabar sekolah dariku?" Wirya menatap Bagas penuh arti.

Bagas membetulkan letak kacamatanya. Ia mengambil pena dan jurnalnya. "Kurasa Mas Wirya sudah tahu apa yang dimau pimpinan redaksiku," Bagas membuka jurnalnya.

"Oh..., masalah tentang Pasus dengan OSIS, ya?" Wirya tertawa pelan.

Bagas mengangguk pelan.

"Aku bisa memberikan informasi ini. Tapi, apa yang dijanjikan Johan padaku kalau aku mau membuka masalah ini?"

Siswa kelas satu itu ternganga mendengar pertanyaannya. Lhoh, kok ada janji-janjian seperti ini?

"Lho, Mas Johan sama sekali nggak ngasih tahu apa-apa tentang itu," jawabnya lugu.

Wirya tersenyum tipis. "Kalau begitu, bisakah surat kabar sekolah melakukan sesuatu untuk Pasus?"

-bersambung-

(sambungannya kapan-kapan, entah kapan cerita ini bisa ditulis lagi)

Sabtu, 30 Oktober 2010

Senandung Malam Api

Malam ini, Thyan pergi bersama dengan Li, putera Ibu asramanya, ke pasar malam yang ada di kota. Thyan memakai pakaian lengan panjang berwarna putih, begitupula dengan warna celananya. Sementara itu, Li memakai pakaian lengan panjang berwarna hitam dengan pakaian luar tanpa lengan berwarna putih. Di pinggangnya terikat sebuah kain berwarna hitam. Mereka berdua menyusuri jalanan kota yang ramai dengan kerumunan orang-orang yang sedang menonton pasar malam.

"Apa tidak apa-apa untukmu, Li?" Thyan memandang pemuda itu dari belakang. "Ibumu marah tidak?"

Li tersenyum, "Ibu tidak marah, kok. Ayah juga biasa saja ketika aku minta ijin untuk pergi ke pasar malam. Jadi..., kau tenang saja. Jangan khawatir."

"Hemm..., Kakak-kakakku akan cemburu padaku karena sikap keluargamu padaku," ujar Thyan sambil memandang kiri-kanannya.

Li tertawa lepas mendengar kata-katanya. "Apa boleh buat. Yang paling lama ikut kami 'kan kau." Pandangan Li tertuju pada sekelompok orang yang tengah ber-akrobat. "Hei...!! Kita lihat itu, yuk," Li menarik tangan Thyan dan mengajaknya untuk menonton permainan akrobat.

Thyan tidak bisa menolaknya. Langkah kakinya sedikit terseok-seok mengimbangi langkah kaki Li yang begitu cepat. Li sedikit memaksa masuk di antara kerumunan orang-orang. Ia lalu mencarikan tempat yang bagus supaya mereka berdua bisa menonton pertunjukan akrobat itu tanpa halangan. Seorang laki-laki menyemburkan api yang sangat besar hingga membuat seluruh penonton terpukau. Para penari akrobat jalanan itu tampak lihai membuat nafas penonton tertahan. Mereka begitu ahli dalam mempermainkan kertertakjuban orang-orang di sekitarnya. Li ternganga kagum ketika salah seorang dari penari itu bisa menangkap penari lain yang meloncat dari salah satu papan kayu. Thyan sendiri cuma diam menyaksikan pertunjukan akrobat itu. Hatinya merasa sedikit resah dan galau mengingat semua kebaikan keluarga Li padanya.

Keluarga Li merupakan keluarga yang terkenal biasa menampung anak-anak terlantar di kota. Yah..., mereka termasuk keluarga kaya, sih. Nah... di tempat penampungan atau disebut juga asrama, anak-anak terlantar biasanya dididik dan diberi pengarahan supaya mereka bisa hidup mandiri. Ibu Li dulunya merupakan seorang seniwati yang hebat sehingga dia mengajarkan keahliannya dalam menari kepada anak-anak asuhnya. Sedangkan Ayah Li yang merupakan seorang pedagang, mengajarkan cara menulis, membaca serta berhitung pada mereka yang kurang mampu ini. Thyan sendiri sudah diasuh dalam keluarga ini semenjak umurnya lima tahun. Sekarang..., umurnya menginjak enam belas tahun. Sudah sebelas tahun dia berada dalam keluarga ini dan berteman akrab dengan anak-anak mereka. Dan..., yang paling akrab berkawan dengannya ya... si Li ini...

Begitu banyak yang telah mereka berikan padanya hingga Thyan yang dulunya tidak punya apa-apa, sedikit demi sedikit mulai bisa berdiri sendiri. Thyan merasa berhutang-budi pada mereka. Karena itu, jika Li ataupun keluarganya yang lain bersikap baik padanya, itu justru membuatnya merasa rikuh sendiri. Bagaimanapun juga..., dia cuma orang luar, bukan keluarga mereka seutuhnya...!!

"Hei... tadi Kak Shan berpesan padaku supaya besok kamu datang lebih pagi dalam latihan," Li menoleh ke arah Thyan.

Thyan tersentak dari lamunannya. "Kak Shan menyuruhku datang lebih pagi?" ia mengerutkan dahinya.

Li mengangguk pelan. "Katanya... ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."

Gadis itu makin bertambah heran. "Siapa?"

"Entahlah," Li menggedikkan bahunya. "Tapi..., katanya sih orang penting."

Gadis itu semakin tanda tanya. Pandangannya teralih sejenak ketika ada sekawanan prajurit merusak kerumunan orang-orang yang tengah menonton akrobat. Seluruh orang tampak 'kocar-kacir' karena gangguan prajurit kota. Mereka segera menyingkir, mempersilahkan seorang petinggi untuk lewat. Suara langkah kaki kuda yang gagah terdengar mendekati para pemain akrobat yang diam mematung di tempat masing-masing. Seorang Pria berambut hitam pendek dan memakai baju dinasnya lengkap, memandang tajam ke arah para pemain akrobat itu. Raut wajahnya tampak menyiratkan kemarahan serta kegeraman tersembunyi.

Thyan terperangah melihat Pria yang duduk dengan tegap di atas kuda hitamnya. Ia mengenali Pria itu...!! Dia merupakan salah seorang pengunjung rutin sanggar!! Li sedikit mundur ke belakang ketika beberapa prajurit menyuruhnya untuk mundur.

"Bukankah kemarin aku sudah mengatakan pada kalian untuk tidak beratraksi di sini?!" nada suaranya meninggi tajam dengan suara berat yang khas.

Para pemain akrobat itu gemetar ketakutan mendengar kata-kata Pria itu. Mereka tertunduk takut dengan tubuh menggigil pelan. Thyan memperhatikan Pria pujaan hatinya dengan seksama sampai tidak menyadari kalau Li menarik tangannya dan mengajaknya untuk pergi dari tempat itu.

"Ayo pergi," ajak Li setengah berbisik.

"Kenapa harus buru-buru?" protes Thyan. Ia tak mau meninggalkan tempat ini cepat-cepat.

"Kata Ayahku, tidak baik berlama-lama di tempat yang banyak prajuritnya. Bisa-bisa kita kena tuduhan yang tidak-tidak," Li menarik Thyan dan berjalan menjauhi kerumunan secara perlahan-lahan. Tanpa disengaja, tatapan Thyan dan Pria itu kembali bertemu. Kali ini, sangat jelas bagi Pria itu untuk mengenali Thyan dan Pemuda yang mengajaknya pergi.

Sang Penari Merak

Gadis bergaun hijau muda lembut itu menggerakkan kedua tangannya. Kedua matanya yang berwarna hitam, memandang teduh sekelilingnya tanpa ada rasa sama sekali. Tubuhnya bergerak gemulai, menampakkan kecantikan sang merak yang elok. Kain-kain panjang yang menyelubungi tangannya tergerak ke atas dan ke bawah, berputar dan membentuk bayangan-bayangan indah dalam udara.

Kepekatan malam yang indah membuat suara kecapi dan seruling makin terasa syahdu. orang-orang berdecak kagum menyaksikan tarian mereka yang indah dan elok dipandang. Tak sedikit di antara orang-orang itu membawa pasangan mereka untuk menyaksikan tarian terkenal di pinggir danau besar nan indah. Suara biduanita yang merdu mengalahkan suara-suara malam yang kaku. Semua orang terhipnotis dengan tarian sekelompok orang itu. Pandangan mereka sama sekali tidak teralih pada wajah-wajah bercadar putih tipis yang menarikan tarian indah ini.

Di sudut matanya yang indah, gadis bergaun hijau muda lembut itu mencuri pandang ke arah seorang Pria berpakaian hitam yang tengah menikmati pertunjukan mereka. Sebetulnya, gadis itu memakai pakaian sama dengan kawan-kawannya, yang membuatnya berbeda adalah tatapan malu-malunya pada orang-orang di hadapannya. Ia tampak lebih sering menundukkan pandangannya dan berkonsentrasi pada tariannya daripada melemparkan dengan bebas pandangannya pada siapapun.

Gadis itu tak mengenal Pria berpakaian hitam itu sepenuhnya. Yang ia tahu, seminggu sekali, Pria itu akan datang kemari menyaksikan pertunjukan tarian mereka. Jantungnya berdegup ringan ketika pandangan mereka tak sengaja berpapasan. Gadis itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Hampir saja dia salah melakukan gerakan karena kaget, dipandangan setajam itu oleh Pria tersebut. Hatinya bergetar tidak karuan. Sudah lama sekali ia memperhatikan Pria ini dari kejauhan dan... hatinya mulai merasakan sesuatu yang meresahkan serta sedikit menyakitkan.

Selendang-selendang panjang berwarna hijau lembut menari-nari di udara, di antara angin-angin malam yang dingin. Ingin sekali..., dirinya berkenalan dengan Pria itu tetapi, apa daya, dia merasa malu untuk berkenalan langsung dengan salah seorang pengunjung mereka. Lagipula..., jika Pria itu punya kedudukan tinggi, apakah cintanya bisa terbalas? Ah..., gadis itu berdecak resah dalam hatinya. Ia berdoa, semoga... Pria itu berasal dari kalangan biasa saja. Namun..., sepertinya itu hal yang mustahil karena rata-rata pengunjung yang datang ke tempat ini merupakan orang-orang kalangan atas yang menyukai kesenian.

Langkah-langkah kaki kecilnya mengikuti iringan petikan kecapi yang lembut. Rambut hitamnya yang bergelombang diikat dengan rapi. Terdapat hiasan rambut emas berbentuk mirip seperti bulu merak diujungnya. Sekarang, pandangannya kembali terarah pada Pria itu. Sejenak, ia tertegun dalam kediamannya saat melihat seorang wanita bergaun merah jambu lembut duduk dengan anggun di sampingnya. Perasaannya hancur seketika ketika melihat kemesraan serta rasa kasih di antara keduanya. Sekarang..., ia sadar, bahwa dirinya... hanya mengharapkan hal yang sia-sia.

Merak-merak itu menyelesaikan tarian mereka hingga akhir. Gadis itu sendiri menahan air matanya yang sudah hampir turun ke pipinya. Ia berusaha menyelesaikan tariannya sekalipun perasaan pada hatinya membuat seluruh tubuhnya enggan untuk bergerak. Ketika musik telah selesai didendangkan dan para penari selesai menarikan tariannya, seluruh orang yang ada di tempat itu bertepuk tangan dengan wajah terkagum-kagum. Berapa kalipun mereka menyaksikan tarian ini, tetap saja rasa kagum itu tidak pernah sirna.

Selesai memberikan penghormatan kepada pengunjung, para penari itu pergi dari panggung mereka yang berupa lapangan bebas berumput dan masuk ke dalam sebuah rumah besar berukiran indah. Di sana..., pecah sudah kesedihan sang gadis. Cintanya... telah tertolak sebelum ia sempat mengutarakannya pada Pria yang disukainya.
***

Keesokan harinya....
"Pagi, Thyan...," seorang pemuda berpakaian putih dan bercelana panjang biru, mengagetkan si gadis yang tengah menjemur pakaian di belakang asramanya. Pemuda berambut hitam pendek itu muncul dari atas pohon secara tiba-tiba.

"Li...?! Kau selalu saja mengagetkanku," gadis yang bernama Thyan itu menggerutu dengan kedatangan kawannya yang merupakan anak pemilik asrama. "Apakah kau tidak bisa datang dengan mengucapkan permisi?" ia kembali menjemur baju luarnya.

"Baiklah, Nona Thyan," Li tersenyum usil. "Permisi..., apakah aku mengganggumu?" tanyanya yang jelas-jelas jawabannya sudah pasti. Ia lalu meloncat turun dari atas pohon dan membantu Thyan menjemur pakaian para penari yang lain.

"Hei...!! Ibumu akan memarahiku kalau tahu kau ikut menjemur pakaian Kakak-kakak yang lain," ia segera merebut baju yang ada di tangan Li dan menyuruh pemuda itu jauh-jauh dari dirinya.

"Ah..., santai sajalah, Thyan," Li merebut pakaian yang ada di tangan gadis itu. "Ibuku tidak akan tahu kalau kau tidak memberitahu. Lagipula, kalau beliau datang, aku bisa segera bersembunyi. Jadi..., kau tidak akan dimarahi." ujarnya dengan senyum simpul yang khas.

Thyan diam. Bicara dengan pemuda ini hanya akan menghasilkan perdebatan saja, jadi..., ia putuskan untuk membiarkan pemuda itu membantunya.

"Hari ini kau ada latihan?" tanya Li.

"Tidak ada," jawab Thyan pelan. Ia teringat kejadian malam tadi. "Kemarin pementasan, jadinya... hari ini istirahat."

"Wah..." raut wajah Li tampak senang. "Kalau begitu..., bagaimana kalau kita pergi ke pusat kota?" ajaknya. "Di sana sedang ada pasar malam, lho."

Thyan mengerutkan dahinya. "Ibumu benar-benar bisa marah padaku, Li."
***

Kamis, 28 Oktober 2010

Sayap-sayap harapan

Seorang gadis cilik berpakaian usang menengadahkan kedua tangan kecilnya di pinggir jalan. Dengan muka berdebu dan tubuh ringkihnya yang mungil, ia berjalan dari satu orang menuju ke orang lain, meminta sedikit belas kasihan dari sekelilingnya. Namun, apa daya, sedikit sekali orang yang mengulurkan tangannya untuk memberikan sekoin receh padanya.

Gadis cilik itu tertunduk lesu di tepi trotoar. Uang yang ada ditangannya sangat sedikit hingga membuat hatinya gelisah. Anak itu takut, jika ketika pulang nanti, sang Ibu akan memarahinya karena uang yang ia bawa kurang. Wajahnya menyiratkan kebingungan dalam hatinya. Gadis kecil itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rasanya hatinya tercabik-cabik jika mengingat pukulan atau makian kedua Orangtua yang sudah membuatnya lahir ke muka bumi ini. Air matanya berlinang di kedua bola matanya yang hitam. Tubuh kecilnya gemetar ketakutan.

Anak itu mengelap air matanya yang jatuh dengan lengan kaos usangnya. Ia berdiri dari tempatnya duduk dan kembali mengemis di sekitar jalanan yang padat dengan orang-orang dewasa. Sesekali, anak itu melirik iri beberapa anak kecil yang sedang jajan sehabis pulang sekolah. Dirinya memandang kagum anak-anak berseragam itu dan merutuki dirinya sendiri yang tidak punya pengetahuan apa-apa selain mengemis. Tawa-canda anak-anak berseragam itu membuat dirinya semakin minder. Harga dirinya jatuh sedalam-dalamnya. Kedua tangannya yang semula terangkat kembali turun dan tertelungkup. Diurungkan niatnya untuk meminta-minta.

Hatinya berbisik sedih. Mengapa mereka bisa bersekolah sementara dirinya tidak? Mengapa mereka bisa membaca sedangkan dirinya tidak? Kenapa dirinya harus mengemis seperti ini? Apa yang membuat kedua Orangtuanya tidak mau menyekolahkannya? Batinnya berkecamuk hebat. Bukan keinginannya untuk lahir dari keluarga miskin yang kasar seperti ini. Bukan keinginannya untuk mempunyai kedua Orangtua yang pemarah dan sering memaki dirinya ini...?! Bukan keinginannya pula untuk menjadi pengemis dan ditertawai oleh banyak orang...!!

Anak itu terisak pelan ditengah hiruk-pikuk keramaian jalan yang padat. Air matanya menetes satu demi satu di kedua pipi mungilnya yang kotor. Ia ingin bersekolah. Ia cuma ingin bersekolah...!!!

Jumat, 06 Agustus 2010

Seindah Senyumanmu

Kuletakkan beberapa kuntum bunga mawar diatas gundukan tanah yang berwarna cokelat kemerahan. Kupandangi batu nisan yang tertancap diatas tanah itu.
Tak terasa, air mulai turun dari mataku. Kutengahdahkan tanganku diatas makam itu. Dan, mulai berdoa supaya orangyang berada didalam makam itu mendapatkan nikmat kubur dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Selesai berdoa, aku menghapus air mataku. Lalu, seorang anak laki-laki berumur lima tahunan datang menghampiriku.
“Ayah, Ayah…!!” Anak kecil itu memanggilku dengan nada yang khas.
“Ini…” Anak kecil itu menoleh kearah makam yang ada dihadapanku.
“Ini makam siapa, yah?” dengan bola mata yang berwarna hitam kelam bagai langit dimalam hari, anak kecil itu memandangku dengan wajah polos.
Aku tersenyum saat mendengar pertanyaannya.
Kubelai rambutnya yang begitu lembut. Dan, kududukkan dia diatas pangkuanku.
“Ini adalah makam Ibu, ayah…!!” jawabku sambil memandangi makam tersebut.
“Berarti, ini adalah makam Nenek, Ridwan?” Anak itu memandangku dengan wajah ingin tahu.
Aku mengangguk.
“Ridwan tahu tidak…!! Kalau, Nenek Ridwan itu orang yang sangat baik…?!” ucapku.
“Sama seperti ibu…?” Ridwan balik bertanya kepadaku.
Aku mengangguk.
“Beliau adalah orang yang membuat Ayah bisa menjadi seperti ini…!!” Aku teringat kembali dengan masa laluku.
***
Tiga belas tahun yang lalu…
“Ri…!! Hari ini, kita berdua pergi ke Rumah Sakit, ya…!!” Kakak perempuanku, Laras meletakkan secangkir teh dihadapanku.
Aku terdiam ketika mendengar kata-kata Kakakku.
“KRIEET….!!”
Aku berdiri dari kursiku.
“Lho…!! Kamu mau kemana?” Kak Laras menatapku dengan wajah keheranan.
“Aku mau berangkat ke sekolah…!!” Aku mengambil tas yang kuletakkan diatas meja ruang tamu.
“Lho…?! Kamu tidak mau sarapan dulu, Ri?” Kak Laras kembali bertanya kepadaku.
“Tidak, Kak…!! Nafsu makanku sudah hilang…!!” jawabku singkat.
Kemudian, tanpa memperdulikan lagi pertanyaan maupun kata-kata dari Kak Laras, aku berjalan meninggalkan rumah dan berjalan menuju ke sekolah yang ada tidak jauh dari rumahku.
***
Setelah berjalan sekitar lima belas menitan, aku sampai didepan pintu gerbang sekolah.
Dengan perasaan malas, aku masuk ke dalam sekolah.
“Huuuh…!! Enak saja…!! Menyuruhku pergi ke Rumah Sakit untuk menemui wanita itu…!!” gerutuku dalam hati.
“Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau menemui wanita itu…!!” tegasku dalam hati.
***
Siang Harinya…
Bel sekolah berbunyi lima kali. Itu artinya sekolah sudah usai dan anak-anak diijinkan untuk pulang.
Seperti biasa, diwaktu berangkat maupun diwaktu pulang sekolah, perasaan malas selalu saja hinggap didalam hatiku. Dan, kini saat aku akan berjalan keluar dari gerbang sekolah…
“Ri…!! Tunggu dulu…!!” Seorang perempuan berambut hitam panjang berlari kearahku.
Aku mengurungkan niatku untuk keluar dari gerbang sekolah dan menunggu perempuan itu sejenak.
“Ada apa?” tanyaku pada perempuan itu.
“Begini, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu…!!” jawab perempuan itu dengan nafas tersenggal-senggal.
“Apa yang ingin kau katakan?” tanyaku lagi.
Perempuan itu menoleh kesana-kemari dan bertingkah-laku aneh dihadapanku.
“Ri…!! Kau ikut denganku sebentar, ya…!!” pinta perempuan itu.
“Kemana?” wajah berubah menjadi heran.
“Ke taman sekolah…!!” perempuan itu menunjuk sebuah taman yang ada disudut halaman sekolahku.
***
Bunga-bunga berwarna indah tumbuh dengan subur. Beberapa buah tempat duduk bercat putih menghiasi taman itu. Dan, tak luput, sebuah kolam bercat ada ditengah-tengah taman itu.
“Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan kepadaku, sih, Trid…?!” wajahku berubah menjadi penasaran.
“Sebenarnya…” Perempuan bernama Astrid itu mengambil sesuatu dari dalam tas-nya.
“Ini…!!” Astrid menyerahkan sebuah kado dengan hiasan sebuah pita berwarna merah kepadaku.
Aku menerima kado itu dengan wajah heran.
“Kau menyerahkan ini dan mau mengatakan kalau kau suka padaku?” Aku menatap Astrid dengan wajah heran.
Seketika itu juga, wajah Astrid berubah menjadi merah, entah itu karena ia malu atau yang lainnya. “SIAPA JUGA YANG MAU MENGATAKAN HAL ITU KEPADAMU….!!” Astrid berteriak tepat ditelingaku.
“NGIIING…!!” telingaku berdenging karena volume suaranya yang begitu keras.
“Siapa juga yang mau mengatakan kalau aku suka dengan anak sepertimu…” gerutu Astrid dengan wajah sebal.
“Sekalipun kau ini pandai, tapi, kau terlalu dingin dan terlalu penyendiri…!!” lanjut Astrid.
“Lagipula, aku ini ‘kan musuhmu…!! Kenapa juga aku harus suka padamu…!!” ucap Astrid dengan emosi menggebu-gebu (Astrid peringkatnya selalu no. 2 dari Ari).
“Iya…!! Iya…!! Aku tahu…!!” Aku menutup kedua telingaku sebentar.
“Kalau begitu, beri tahu aku, kenapa kau memberikan kado ini kepadaku?” Aku menunjuk kado yang ada ditanganku.
“Aku menyerahkan kado itu kepadamu atas permintaan seseorang,” jelas Astrid.
“Seseorang…?!” Aku mengulang kata-kata Astrid dengan wajah penasaran.
“Ya.” Astrid mengangguk. “Orang itu, memintaku untuk memberikan kado ini kepadamu, Dan…”
***
Kini, Aku dan Astrid berjalan menuju sebuah gedung yang ada tidak jauh dari Sekolahku. Langkah kakiku terhenti saat tiba didepan pintu gerbang gedung bercat putih dan berlantai empat itu. Aku teringat kembali dengan orang yang sudah melukai hatiku ketika aku berumur sepuluh tahun.
“Huuh…!! Kenapa, aku jadi teringat masa lalu…?!” gerutuku dalam hati.
Kemudian, aku masuk ke dalam gedung itu. Banyak orang berlalu-lalang di dalam gedung itu. Dilihat dari wajah mereka, mereka tampak begitu sibuk karena, harus mengurusi ini-itu. Dan, setiap langkah, aku masuk ke dalam gedung itu, ingatan-ingatan dimasa lalu terbayang dihadapanku.
Mulai saat dipukul, karena telah mencuri. Dijewer karena sudah berkata yang tidak-tidak. Hanya boleh makan nasi dengan telur selama satu hari penuh, karena aku mendapat nilai jelek dalam ulangan. Lalu, yang paling penting, aku pernah dihukum harus mengerjakan latihan-latihan soal selama tiga jam penuh, hanya karena, keasyikan Nonton TV dan melalaikan Shalat Ashar.
Hukuman-hukuman yang terus aku jalani karena kesalahan yang kulakukan, hingga umurku empat belas tahun, membuatku menjadi seorang anak yang dingin dan penyendiri. Tidak suka terlalu banyak bicara dan selalu terkesan sombong.
Tetapi, ketika aku berpikir-pikir kembali, ada benarnya juga jika aku dihukum. Namun, aku tetap tidak terima jika harus diperlakukan seperti itu. Rasa egois dan harga diri yang terlalu tinggi membuatku sulit untuk memaafkan seseorang. Dan, terkadang, perasaan itulah yang membuatku menderita hingga saat ini.
“Sudah sampai,” Astrid menghentikan langkah kakinya saat tiba disebuah kamar.
“Ini ‘kan…” wajahku berubah saat melihat nomor kamar itu.
“Ayo, kita masuk, Ri…!!” Astrid menarik tanganku.
“CKLEK…!!”
Saat kami berdua masuk, seluruh pandangan orang yang ada didalam ruangan itu teruju kepada kehadiran kami berdua. Sementara itu, pandanganku tertuju kepada seorang wanita berwajah pucat yang kini sedang terbaring lemah dengan jarum infuse yang menusuk kulitnya yang berwarna cokelat dan sebuah selang pernafasan ada dihidungnya.
Wanita itu tersenyum saat melihat kedatanganku. Namun, aku mengalihkan pandanganku kearah lain dengan wajah muram. Melihat wajahku yang seperti itu, wanita itu menjadi sedih.
“Ri…!! Dia adalah orang yang membuatkan kado itu,” ucap Astrid dengan nada lembut.
Aku terdiam mendengar kata-kata Astrid. Dan, tanpa pikir panjang, kulempar kado itu diatas lantai.
“Ari…!!” orang-orang yang ada didalam ruangan itu begitu kaget saat melihat sikapku.
Aku hanya diam saat melihat pandangan-pandangan dari orang-orang itu. Dan, saat aku akan meninggalkan ruangan itu…
“A…Ariii…” wanita itu memanggilku dengan nada lemah.
Aku menghentikan langkah kakiku saat mendengar panggilannya.
Air mulai mengalir dari mata wanita berwajah pucat itu. Wanita yang berusia sekita tiga puluh lima tahunan itu, kini menangis seorang diri diatas tempat tidur.
“Ma…Maafkan ibu…!! Walaupun, mungkin kau tidak mau memaafkan Ibu tirimu ini…!!” ucap wanita itu dengan suara lirih.
Aku terdiam saat mendengar kata-katanya. Emosiku mulai meledak saat mendengar kata-katanya barusan.
“Ari…!!” Astrid memanggilku dengan nada tegas.
Aku menoleh kearahnya dan memandangnya dengan mata penuh emosi. Lalu…
“PLAAK…!!!!”
Astrid menamparku dengan begitu keras. Orang-orang yang ada di ruangan itu tambah terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Astrid.
“Kau benar-benar orang yang Dzalim…!!” ucapan Astrid terdengar begitu tajam ditelingaku.
Aku terdiam mendengar kata-katanya.
“Apakah, kau ingin menjadi anak yang durhaka…?! Apakah kau benar-benar ingin menjadi orang yang dimurkai Tuhan karena telah membenci orang tuamu sendiri…?!” pertanyaan yang begitu tajam keluar dari mulut Astrid.
Aku diam tak menjawab. Kupalingkan wajahku dari tatapan Astrid.
“Astrid. Sudah..., jangan berbuat seperti itu kepada Ari…” wanita lemah itu berusaha mencegah Astrid untuk memarahiku, lewat kata-kata.
“Jika, tidak diperlakukan seperti ini, dia benar-benar akan menjadi anak yang durhaka, Bi…?! Apakah, Bibi menginginkan hal itu?” tanya Astrid dengan suara agak halus.
Wanita itu terdiam mendengar kata-kata Astrid. Wajahnya tampak begitu sedih.
“Sekarang, minta maaflah kepada ibumu…!!” perintah Astrid.
“Dia bukan Ibuku…!!” ucapku dengan suara pelan.
“Deg…!!”
Jantung wanita itu berdetak sangat kencang ketika mendengar kata-kataku barusan.
“Dia hanya orang lain yang tidak mempunyai hubungan darah denganku…!!” ucapku dengan tegas.
“Ari…!!” Kak Laras, Ayah, saudara-saudaraku dan Astrid begitu terkejut ketika mendengar ucapanku, termasuk wanita itu.
“Agh…!!” tiba-tiba saja wanita itu mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya, tempat dimana sebuah organ tubuh manusia yang begitu penting, terasa sakit.
Wanita itu mulai kesulitan untuk bernafas. Keringat bercucuran dari dahinya. Dan, dia tampak begitu kesakitan. Melihat keadaan seperti itu, Ayahku, Kak Laras dan saudara-saudaraku menjadi panik. Mereka kemudian memanggil Dokter yang menangani penyakit wanita itu. Sementara itu, aku hanya bisa diam terpaku ketika melihat dokter sibuk memeriksa keadaan wanita itu.
“Sama…!! Sama seperti waktu itu…!!” seluruh badanku gemetar ketakutan ketika melihat bayangan masa laluku kembali.
Saat itu, Ibuku dirawat dirumah sakit. Penyakit Ibuku awalnya hanya karena diabetes, namun, hal itu berlanjut hingga akhirnya, beliau mengalami komplikasi pada jantung dan hatinya. Disaat-saat terakhir, aku mendengar dari mulut Ayah sendiri dari balik pintu kamar Ibu, bahwa Ayah akan menikah dengan wanita itu. Dan, setelah itu, Ibu menghembuskan nafas terakhirnya.
***
Hari sudah mulai malam, namun, operasi masih belum selesai. Kami semua menuggui wanita itu diluar ruang operasi. Dan, entah kenapa, tiba-tiba saja perasaanku mendadak menjadi sakit seperti ditusuk-tusuk oleh pisau.
“Ari…!!” Ayah kini berdiri dihadapanku. “Ada yang ingin Ayah bicarakan padamu.”
***
“Apa yang ingin Ayah bicarakan kepadaku?” Kini, aku bersama dengan Ayah ada diatap beranda rumah sakit, lantai empat.
Ayah terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaanku. Beliau memandang langit malam yang berwarna hitam pekat. “Umurmu sudah enam belas tahun. Itu berarti, kau sudah cukup umur untuk mendengarkan cerita ini.”
Aku terheran-heran saat mendengar kata-kata Ayah.
“Sebenarnya…” raut wajah Ayah terlihat begitu sedih. Sorot matanya tampak sedih sekaligus berat. “Kau bukan puteraku,” ujarnya pelan.
***
“DRAP…DRAP…DRAP…!!”
Aku berlari dengan begitu kencang menuju ke lantai satu. Air mengalir dari mataku saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan sebenarnya mengenai siapa sebenarnya diriku ini.
“Ri…!! Sebenarnya, kau adalah putera dari Wiwin, orang yang saat ini paling kau benci dengan Rio, teman dekatku.”
Aku terus saja berlari tanpa memperhatikan orang yang berlalu lalang disekitarku.
“Saat itu, umurmu baru enam bulan…!! Dan, kedua orang tuamu bekerja sebagai seorang peneliti…” Ayah mengingat kembali kejadian itu.
“Suatu hari, kedua orang tuamu harus pergi ke Irian Jaya untuk untuk menyelidiki sesuatu. Mereka berdua, tidak tega membawamu ikut serta dalam perjalanan dinas itu, dan akhirnya mereka menitipkanmu kepada kami.”

“BRUUKK…!!”
Tanpa sengaja, aku menabrak seorang perawat yang lewat didepanku.
“Ma…Maaf…!!” setelah berkata seperti itu, aku berlari menuju kearah tangga lantai tiga.
“Namun, sayang.., sebelum sampai di tempat tujuan, pesawat yang ditumpangi kedua orang tuamu mengalami kecelakaan. Ayahmu meninggal dan Ibumu mengalami luka parah.”
“Bisa-bisanya, aku membenci Ibu kandungku sendiri…!!” hatiku menjerit kesakitan karena, sikapku yang begitu menyakiti ibuku sendiri.
“Awalnya, saat umurmu lima tahun, Ayah ingin memberitahukan tentang hal ini kepadamu, tetapi, Ibu Laras melarangnya. Ia mengatakan, bahwa kau masih belum cukup siap untuk diberitahu tentang hal ini.”
Kata-kata Ayah tadi, terus membayangi pikiranku.
“Aku mengalah dan menunggu beberapa tahun lagi untuk mengatakan hal ini kepadamu. Namun, takdir memang sulit untuk ditebak…” Ayah menghentikan kata-katanya sejenak.
“Ibu Laras akhirnya memintaku untuk menikah dengan ibumu disaat-saat terakhir. Saat aku mengatakan bersedia untuk menikah dengan ibumu, kau mungkin mendengarnya dari balik pintu kamar Ibu Laras.”

Aku terus saja berlari dengan perasaan menyesal.
“Ternyata, Ibumu memintaku untuk merahasiakan bahwa sebenarnya kau adalah puteranya. Dan, semenjak Ibumu menjadi istri Ayah, dia mulai memberi ajaran-ajaran yang bisa dikatakan keras kepadamu.”
“Hal itu dilakukannya, supaya kamu menjadi orang yang disiplin, orang yang selalu berbuat jujur dan orang yang bertakwa kepada Tuhan…!!”
“Aku memang benar-benar anak yang durhaka…!!”
ucapku dalam hati.
“Sekalipun, semua perbuatan yang dilakukan ibumu itu, mengakibatkan kau membencinya...” Kata-kata terakhir dari Ayah tadi membuatku sadar dari kekeliruanku selama ini.
“Hosh…Hosh…Hosh…!!”
Kini, aku berada di depan pintu ruang Operasi. Kulihat, lampu di ruang Operasi sudah tidak menyala lagi.
“Ri…!!” Astrid berdiri dibelakangku.
Aku menoleh kearah Astrid.
“As, di mana Ibuku?” Aku langsung bertanya seperti itu kepada Astrid.
“Ibumu…Ibumu…” Astrid tak dapat melanjutkan kata-katanya. Air mengalir dari bola matanya yang berwarna cokelat seperti warna tanah.
“Ti…Tidak mungkin…” badanku gemetar saat melihat air matanya.
Kemudian, Astrid menunjuk ke sebuah ruangan yang tak lain adalah ruang ICU. Setelah melihat ruangan yang ia tunjuk, aku langung berlari menuju ruangan itu. Kemudian, saat tiba didepan pintu ruangan itu, aku berhenti berlari dan membuka pintu ruangan itu pelan-pelan.
“TUUT…TUUUT…TUUUT…!!”
Detak jantung ibuku terdengar begitu lemah.
Kututup pintu ruangan itu dan kudekati ibuku pelan-pelan. Air mataku mengalir dengan begitu deras saat melihat kondisinya yang memprihatinkan. Kemudian, aku duduk disebuah kursi yang ada disamping tempat tidurnya.
“Ibu…!!” Aku menggenggam dengan erat tangan Ibuku yang begitu hangat. Air mata yang mengalir dengan deras semakin keluar dengan begitu deras saat menyentuh tangan ibu kandungku sendiri.
“Ng…!!” Aku merasakan jari-jari tangan ibuku bergerak.
Beliau membuka matanya. Dan, saat melihatku, beliau tersenyum senang. “A…Akhirnya, kau mau mengakui ibumu ini, Nak..” ucap Ibuku dengan suara pelan.
“Ma…Maafkan Ari, Bu…!! Maafkan kesalahan Ari selama ini, Bu…!!” aku menangis tersedu-sedu di hadapan Ibuku.
Ibuku tersenyum mendengar permintaan maafku. “Ibu sudah memaafkanmu, Ri…” jemari-jemarinya yang lemah mengusap rambut hitamku yang pendek. “Ibu sudah memaafkan semua kesalahanmu.” Lanjutnya pelan dengan suara seperti berbisik.
“TUUUUTTT...!!”
Tangan Ibu yang tadi kugenggam dengan erat jatuh ke tempat tidur. Kini, suara detak jantungnya sudah tidak terdengar lagi.
Aku ternganga ketika tak lagi merasakan usapannya. Jari-jari yang lemah itu kini jatuh di atas tempat tidur. “Ti…Tidak…” Aku tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat saat ini. “Ini tidak mungkin…!!” kedua kakiku terasa lemas hingga aku terduduk diatas lantai rumah sakit yang dingin.
Penyesalan yang luar biasa masuk ke dalam hatiku. Air mengalir dari mataku seolah menggantikan penyesalan yang hingga di hati ini.
***
“Yah…!!” anak kecil yang duduk diatas pangkuanku membuyarkanku dari ingatan masa lalu.
“Kita pulang, yuk…!! Ibu pasti sudah menunggu di rumah…!!” anak itu mengajakku untuk pulang.
Aku mengangguk mendengar kata-kata anak kecil itu. Kemudian, aku beranjak pergi dari makam itu bersama dengan Ridwan.
“WHUUSSS…!!”
Angin berhembus dengan lembut di sekitarku. Kuhentikan langkah kakiku sejenak. Kemudian, aku menoleh ke arah makam itu lagi.
“Ayah…!!” Anak kecil itu menarik-narik lengan bajuku. Dia sudah tidak sabar lagi untuk pulang ke rumah.
“Iya…Iya…!!” Kuturuti kemauan anak itu.
Dan, kami berdua meninggalkan Tempat pemakaman itu. Tempat dimana seseorang yang telah mendidikku beristirahat dengan tenang di Alam sana.
Hembusan angin lembut menerpa dedaunan berwarna hijau disekitar jalan. Ranting-ranting kecil berwarna cokelat berayun-ayun seolah mengatakan selamat jalan.

Senin, 05 Juli 2010

Terperosok dalam Kubangan Hitam

Alkisah..., ada seorang gadis kecil berumur sekitar delapan tahunan yang bertetangga agak jauh dari seorang anak laki-laki berumur dua belas tahun. Gadis cilik ini memiliki rambut pendek sebahu dan bermata bulat. Saat berangkat ataupun pulang dari sekolah, anak kecil ini biasa melewati rumah anak laki-laki itu. Terkadang, dengan kedua mata hitamnya, ia melihat sekilas ke arah si anak laki-laki yang kadang-kadang sedang duduk-duduk membaca buku di teras rumah.
Suatu hari, Ayah si anak kecil itu membelikannya sebuah sepeda baru. Anak itu senang bukan main mendapat sepeda baru itu. Ia dan seorang sahabatnya lalu sering bersepeda keliling kampung menaiki sepeda barunya. Anak itu juga akhirnya sering bolak-balik melewati depan rumah si anak laki-laki yang disukainya sampai anak laki-laki itu merasa jengah karena merasa diawasi oleh bocah kecil itu. Puncak dari kejengahannya adalah di waktu maghrib setelah dia berangkat ke masjid.
Anak perempuan itu beberpaa kali bolak-balik lewat di depan masjid bersama kawannya dengan menaiki sepeda. Harapannya cuma satu, bisa melihat anak laki-laki itu. Akhirnya..., selesai sholat maghrib, anak laki-laki itu menunggu kedatangan si bocah di depan rumah imam masjid. Kebetulan, si bocah perempuan itu datang dari arah berlawanan dengan anak itu. Si anak laki-laki itu mencegatnya langsung. Boch itu jadi merasa gugup dan nggak bisa memegang kendali sepedanya. Lalu....
"WIIING.....!!! SYUUTT....!!! BYUURR....!!!"
bocah itu beserta kawannya plus sepeda baru dari si Ayah, langsung terbang dan mendarat di atas selokan besar yang ada di samping jalan. Si anak laki-laki itu langsung kabur melihat bocah itu kecemplung ke dalam got. Kawan si bocah menangis keras gara-gara sebelah sandalnya hilang. Anak perempuan itu sendiri cuma diam dengan badan belepotan lumpur hitam dan sampah daun.
ck...ck..ck..., orang-orang langsung menolongi mereka dan membantu anak-anak kecil itu untuk keluar dari dalam got. Si anak perempuan itu lalu langsung pulang ke rumah. Kedua orangtuanya melongo kaget melihatnya jadi hitam legam dan bau seperti itu. Dia langsung dimandikan sebersih-bersihnya dan sepedanya juga dibersihkan sebersih mungkin.
Wajah anak itu tampak cemberut dan sebal. Sejak kejadian itu, ia jadi ingin mengumpati anak laki-laki itu. Ia jadi sebal padanya dan akhirnya... sampai sekarang... ia tidak pernah bertegur sapa dengan anak laki-laki itu.