Senin, 14 Januari 2013

#13HariNgeblogFF, Day 2 - Pukul 2 Dini Hari

Di sini aku berdiri.

Angin malam berhembus kencang. Suasana tampak sepi senyap. Tak ada lalu-lalang orang-orang di jalanan desa. Walau tidak terlalu kentara tetapi, aku bisa merasakan ketakutan di balik gubuk-gubuk kecil ini.

Berdiam di tempat yang dingin, bersembunyi dalam kegelapan. Di balik bayang-bayang lorong antara rumah-rumah kayu, aku memegang kedua pedang pendekku erat-erat. Meninggalkan semua kenyamanan di penginapan tadi, sekarang, aku harus kembali ke realita pekerjaanku, Hunter. Aku berbisik pelan, berdoa kepada Sang Pemberi Kekuatan agar bisa menaklukkan buruanku yang paling menjengkelkan.

Setelah beberapa bulan aku kehilangan jejaknya, seminggu yang lalu aku mendengar desas-desus kalau dia akan kemari, ke Aquada. Yah, ini sebenarnya sama saja untung-untungan. Namun, aku harus memastikannya. Jika dia ada di sini, aku akan menghabisinya, segera!
Kupejamkan kedua mataku, berusaha berkonsentrasi pada instingku. Tengah malam sudah lewat tetapi, pagi juga masih lama. Belajar dari kebiasaannya, aku tahu, pukul dua dini hari adalah waktu kesenangannya untuk keluar. Di tengah antara pertengahan malam serta pagi hari. Sejenak, aku terperangah dan segera berbalik. Kuacungkan salah satu pedangku ke arahnya. Sial, bagaimana aku bisa teledor!

“Halo, Hunter,” seringai mengejek muncul di wajahnya. Pria berambut merah pendek itu duduk dengan santai di atas kotak-kotak kayu yang tersusun rapi di antara lorong tempatku bersembunyi.

“Halo juga, Vampir!” geramku.

Pria itu tertawa ringan. Sepertinya dia senang membuatku kaget. “Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan hunterku di sini? Memburuku lagi?” ekspresi wajahnya terlihat mengejekku.

“Tentu saja,” jawabku kesal. “Memangnya aku kemari untuk memancing?” semprotku galak.

Dia kembali tertawa. “Coba kita hitung, berapa kali kau berusaha menangkapku dan membunuhku...” tiba-tiba dia menghilang dan muncul di belakangku. Tubuhku menegang kaku ketika mendengar suaranya. “Sepuluh kali? Lebih dari itu kau, kalian mencoba membunuhku. Tapi pada akhirnya, kalian selalu gagal.” Bulu kudukku berdiri ketika merasakan hawa dingin darinya.

Kudengar dia menarik nafas dalam-dalam. Aku menelan ludah. Dia sedang membauiku, mengingat baik-baik bagaimana aroma tubuhku.

“Aku selalu suka dengan aroma tubuhmu.” Katanya ringan. “Tapi, bagi seorang wanita sepertimu, menjadi hunter bukan pilihan yang baik.”

“Menjadi hunter adalah pilihanku!” Aku berbalik, menebaskan pedangku ke arahnya. Dan..., dia sudah menghilang.

Aku mendelik ke arahnya yang sudah duduk kembali di tempatnya semula.

“Hunter yang bersemangat.” Ia tertawa mengejek.

“Vampir menyebalkan,” balasku jengkel.

Ia tergelak kembali. “Dengar Nona Hunter yang manis...” Pria itu bersandar dengan santai pada dinding rumah. “Saat ini aku sedang sibuk mengatur kawananku. Aku tak punya waktu untuk meladenimu dan kawan-kawan huntermu.” Ia berdiri dari tempatnya duduk. Pendar merah pada bola mata hitamnya menguat. “Aku punya pesan untuk Ketua Huntermu, jangan seenaknya membantai kawananku. Kalau kalian mau membunuh Vampir liar, itu terserah kalian. Namun, kalau kalian membantai kawananku, kalian akan berurusan denganku.”

“Kami membantai Vampir yang bersalah! Tak peduli itu kawananmu atau bukan.” Balasku dingin.

“Tapi aku peduli,” ia tersenyum mengerikan. Sebelum aku sempat beranjak, dia lagi-lagi berada di belakangku. Tubuhku menegang kaku saat jari-jarinya yang dingin menyentuh tengkuk leherku.

“Dengarkan aku...” Ia berbisik di telingaku. “Jika ketuamu masih senang mencari gara-gara denganku, akan kupastikan dia akan kehilangan hunter-hunternya yang piawai. Akan kubuat mereka jadi pelayanku, termasuk kau, Riu.” Ucapannya membuatku mematung.

“Lebih baik aku mati daripada menjadi Vampir!” geramku tertahan.

Dia terkekeh. “Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah.” Cetusnya mengejek. “Nah..., sekarang biarkan aku pergi, Hunter. Dan, ingat kata-kataku tadi! Aku tidak main-main.” Saat bibirnya yang dingin menyentuh leherku, aku baru tersadar apa yang dia inginkan.

Terlambat! Aku meringis ketika taringnya menembus kulit leherku. Sakit dan panas, itu yang kurasakan. Kudengar dia meneguk darahku kemudian, dia membalikkan tubuhku dengan cepat dan...

“Ngh...!!!” Aku berusaha memberontak darinya. Dia menciumku! Aku berusaha melawannya tetapi dia menekanku ke dinding rumah. Darah! Aku bisa merasakan dia memaksa meminumkan darah yang terasa pahit dan kental, penuh dengan racun, darahnya!

“Ahk....” Nafas kami sama-sama tersengal.

Ia menyeringai ke arahku, merasa puas dengan apa yang telah dia perbuat. Sementara aku menatapnya geram dengan penuh kebencian. Ia telah menandaiku!

“Sampai jumpa, Hunter.” Ia mengusap sudut bibirku yang berdarah. “Aku akan melihat perkembangan kalian dan menanti kedatanganmu lagi, dengan sukarela.” Senyum sinisnya membuatku muak. Kemudian, tanpa kata-kata, dia pergi bagaikan angin, meninggalkanku yang diam terduduk di lorong.


Nyeri yang kurasakan pada leherku belum juga hilang. Aku mendesah pelan. Sekarang..., aku menjadi setengah pelayannya!

Minggu, 13 Januari 2013

Kenalan Yuk! - Naga Hitam


Apa keputusannya tepat? Bocah laki-laki berusia sembilan tahun itu diam termangu di tengah hutan kecil yang ada di sisi lain wilayah Da’anrha Utara. Sengaja dia membolos dari Akademi. Selain karena tidak ingin diejek oleh kawan-kawannya karena Ayahnya telah menikah lagi, dia juga ingin mencoba sebuah benda kecil pemberian Ayahnya dulu.

Anak itu mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia menatap benda itu, sebuah batu kristal cantik berwarna hitam bening. Jika kristal itu didekatkan pada cahaya, maka cahaya bisa menembusnya, membuat benda itu mudah diterawang. Si bocah duduk di atas rerumputan. Ia mengamati batu kristal ini. Angin berhembus kencang, memainkan helaian rambut hitamnya yang pendek dan menggerakkan dahan-dahan pohon di sekitarnya, menimbulkan suara gemerisik yang ramai.

Tatapannya terlihat agak ragu ketika hendak menggenggam batu kristal ini. Namun, kemudian dia menggenggamnya sambil memejamkan kedua matanya. Kehangatan itu mulai terpancar dalam genggamannya yang kecil. Bocah itu berusaha berkonsentrasi seperti apa yang telah diajarkan Ayahnya dulu. Gigi-geliginya bergemelutuk saat dia berusaha mencapai alam sang pemanggil.

“DEG...!!!”
Jantungnya berdegup keras ketika sekelebat bayangan hitam melintas dalam pikirannya. Kedua matanya membelalak lebar sementara nafasnya memburu. Xiesht menatap batu kristal itu, ngeri.

“Tidak...” ia menggeleng pelan dengan sorot mata ketakutan. “Tidak mungkin kalau aku...” Kedua tangannya gemetaran. Xiesht cepat-cepat menyimpan batu kristal itu ke dalam tasnya.
Ia merasakan ketakutan ketika mencoba menggapai pemanggilnya. “Aku tidak mau...” gumamnya lirih dengan tubuh menggigil. “Aku tidak mau seperti Ayahku.” Isaknya.

***

Malam menjelang. Xiesht kecil sudah masuk ke dalam kamarnya lebih dulu, sebelum kepala pelayan memintanya untuk tidur. Anak itu berbaring di atas tempat tidurnya. Ia kembali menatap batu kristalnya. Kristal ini... adalah kristal Naga. Kristal yang tidak bisa didapat oleh sembarang orang. Ayahnya mendapatkan batu kristal ini secara khusus dan memintanya... untuk mulai belajar memanggil Naga.

Tidak! Xiesht mengatupkan rahangnya. Kegeraman terlihat di sorot matanya. Ia tidak akan menjadi pengendali Naga! Dia tidak mau jadi pengendali Naga!
Xiesht meletakkan batu itu di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Ia berbalik, membelakangi batu itu dan memejamkan kedua matanya, tidur.

***
Di mana ini? Xiesht mematung di tempatnya berdiri ketika mendapati dirinya berada di suatu tempat yang gelap dan dingin. Ia menoleh ke sana kemari tetapi tak mendapati apapun selain dirinya sendiri.

“Selamat datang,” sebuah suara yang berat terdengar menggema di tempat itu, membuat Xiesht bergidik ngeri.

“Siapa kau?!” serunya sambil menoleh ke sana-kemari, mencari sosok pemilik suara itu.

Sebuah bayangan mewujud, membentuk sosok besar bermata merah menyala dengan tubuh terikat rantai. Tatapannya tampak garang ke arah anak itu. Tubuh Xiesht menegang kaku melihat wujud hitam besar yang belum membentuk badannya dengan pasti ini. Tubuh kecilnya gemetar pelan saat kepala sosok itu menjulur ke arahnya.

“Si...Siapa kau?” tanyanya ketakutan.

Sosok itu diam sejenak. Kemudian dia mendengus, menahan tawanya ketika merasakan ketakutan dari arah Xiesht. “Apa aku membuatmu takut?” tanyanya setengah mengejek.

Xiesht menelan ludah, diam.

“Bagaimana kau tidak mengenaliku padahal suara kita sudah saling bersahutan?” mata merahnya mengarah pada Xiesht. Tatapannya yang liar membuat nyali anak itu ciut.

“Kau... Kau Naga?” Xiesht membelalak, menatapnya tak percaya.

“Kau kira aku apa? Setan?” Bayangan Naga itu tertawa geli.

“Apa yang kau inginkan dariku?!” bentak Xiesht, menyembunyikan kegugupannya.

“Apa ya?” Naga itu memiringkan kepala, pura-pura berpikir. “Kau pikir, apa yang kuinginkan darimu di tempat seperti ini?” tanyanya dingin.

Xiesht menatap sekelilingnya yang kosong. Tempat ini terasa hampa dan... menyeramkan. Kemudian, tatapannya tertuju pada rantai yang membelit si Naga.

“Kebebasan.” Satu kata dari mulut Naga itu membuat Xiesht diam terpaku.

Kebebasan bagi si Naga tetapi, dirinya yang akan terbelenggu dalam perjanjian. Ayahnya... pernah mengatakan tentang hal ini. Namun, satu lagi pertukaran dari Naga itu adalah... Dia akan mendapat kekuatannya. Kekuatan elemental yang besar!

“Kau tertarik, bocah?” Naga itu menyeringai melihat perubahan wajah Xiesht.

“Namaku bukan bocah, namaku Xiesht!” seru Xiesht kesal. “Xiesht Erast Hast, putra calon Jendral Da’anrha Selatan!”

Sang Naga terkekeh mendengar kemarahannya. Sepertinya dia mendapat majikan yang menarik.

“Siapa namamu?” Xiesht menatapnya.

“Itu adalah tugasmu, Xiesht,” Naga itu membungkuk. “Memberiku nama adalah tugasmu.”

Xiesht terdiam, berpikir. Ia lalu menatap Naga itu mantap. “Aku memberimu nama... Gray!”

Sang Naga menarik nafas dalam-dalam, merasakan jalinan kekuatan merasuki tubuhnya saat namanya ditetapkan. Rantai yang membelit tubuhnya melonggar. Kekuatannya perlahan-lahan menyebar. Kedua matanya berubah menjadi kelabu dan menatap Xiesht ramah. “Salam... Tuanku.” Senyumnya mengembang.

Selasa, 28 Agustus 2012

Harian 6 : Terlalu Banyak Ide

Apa kalian pernah mengalami saat itu? Saat kalian pada posisi begitu gembira, begitu enerjik sampai-sampai ide yang ada di dalam kepala kalian ingin kalian tuliskan semuanya ke dalam sebuah kertas? Apesnya, kalau ide-ide itu nggak bisa dikoordinir atau direncanakan dengan baik, jatuhnya malah jadi hilang sia-sia atau malah jadi ide mengambang. Apalagi kalau pikiran harus fokus ke ini-itu, bisa-bisa, ide-ide itu tidak terealisasi.

Sepertinya, sebuah catatan akan membantu untuk mengakomodasi waktu, pikiran, dan terealisasinya ide-ide itu. Akhir-akhir ini, aku keteteran dalam mengorganisir kegiatan serta waktuku. Akhirnya, nggak semua rencana terlaksana, bahkan, ada satu rencana yang terpaksa hangus karena jadwal penyerahan lamaran pekerjaan udah lewat ._.

Jadi orang ternyata harus pintar-pintar membagi waktu. Awalnya, dulu, aku sering menyepelekan masalah pengorganisasian waktu ini. Namun, setelah ada banyak kegiatan dan beban tanggung-jawab dari forum-forum tertentu, aku jadi berpikir ulang. Tidak mungkin aku bisa mengikuti semuanya dalam satu waktu bersamaan. Harus ada pembagian porsi waktu yang tepat untuk semua itu dan jangn lupa, porsi waktu pribadi pun tidak boleh dilupakan -__-" (sekarang udah tinggal bareng ortu lagi, gak sebebas waktu masih tinggal bareng anak-anak kos --").

Namun, sekalipun sudah bikin agenda atau jadwal waktu untuk masing-masing kegiatan, bukan berarti bisa terlaksana dengan baik. Semua akan bermuara pada si pembuat agenda atau pelaksana kegiatan itu, apakah dia mau disiplin dengan agendanya atau tidak (pengalaman tidak pernah disiplin dengan agenda) sekali saja tidak disiplin, jadwal bisa keteteran lagi. Kalua tidak ingin mencoret salah satu kegiatan, pasti akan melaksanakan kegiatan lain dengan terburu-buru. Ternyata oh ternyata, disiplin memang merupakan suatu budaya yang sangat diperlukan dalam manajemen hidup. ._.

#geplak pake kue tart buah hmm..., harus belajar bersabar dan berdisiplin dengan agenda sendiri *menundukkan kepala* nulis agenda acara buat besok dulu kalau begitu :ngacir:

Selasa, 10 Juli 2012

catatan 21 : Sebuah Buku

Malem-malem, nggak bisa tidur. Padahal siang tadi udah minum obat masuk angin smapai dua sachet. Duh... -___-"

Gara-gara nggak bisa tidur, pikiranku malah ngelamun nggak jelas sampai keingetan sama sebuah buku yang pernah kubaca dulu. Aku lupa judul dan pengarangnya siapa tapi, aku ingat sebagian besar isi buku itu. Yang jelas, pengarangnya pengarang luar deh. :D

Buku ini menceritakan mengenai seorang gadis muda remaja, berumur mungkin antara 13-15 tahunan. (Pokoknya umurnya kurang dari 17 tahun *mringis*). Jadi, dalam suatu konser, gadis muda ini tidak sengaja bertemu dengan seorang lelaki yang ternyata penderita HIV. Si gadis yang masih polos dan belum mengerti apa-apa, akhirnya menjalin hubungan dengan lelaki ini sampai pada akhirnya, dia dipaksa untuk melakukan hubungan seks. Setelah melakukan hubungan ini, si lelaki baru memberitahu kalau dia penderita HIV/Aids. Terus terang saja, gadis ini syok mendengar pengakuan laki-laki itu. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa salahnya sampai laki-laki itu tega menularkan virus itu ke tubuhnya?!

Dari titik itu, pergolakan di dalam diri si gadis mulai terjadi. Mentalnya mulai jatuh dan dia meratapi nasibnya karena sudah tertular penyakit mematikan tersebut. Lingkungannya menjauhinya sekalipun ada satu-dua anak yang masih tetap mau berteman dekat dengannya. Sementara laki-laki yang menularinya penyakit itu..., pergi tanpa meninggalkan jejak, seolah puas karena sudah balas dendam dengan menularkan penyakit itu pada orang lain.

Namun, hidup terus berjalan. Atas dukungan dari keluarga maupun kawan-kawan dekatnya, gadis itu mulai ceria kembali. Dia mulai menikmati hidup sekalipun tahu bahwa umurnya tidak akan lama. Dilema sempat terjadi saat dia menyukai kawan sekelasnya dan... ternyata kawannya itu juga menyukainya!! Hubungan mereka berdua sangat dekat bahkan saking dekatnya, hampir saja gadis itu juga menulari orang yang disukainya dengan penyakit itu. Tapi, untung saja si gadis tersadar sehingga dia berhenti melakukannya. Dia... tidak tega menulari orang yang ia cintai dengan penyakit yang dideritanya. Sungguh gadis ini berada di posisi yang dilematis di mana dia ingin berdekatan dengan orang yang ia cintai tapi kondisi tubuhnya tidak memungkinkan bagi dirinya untuk hal tersebut.

Akhir dari buku ini, si gadis meninggal dunia sementara, lelaki yang menularinya virus HIV ditangkap setelah jejaknya terlacak karena dia berusaha menulari salah satu teman sekolah si tokoh utama. Untunglah si tokoh utama sempat memperingatkan temannya itu sehingga temannya bisa selamat dari bujuk rayu si penjebak.

Buku ini berdasarkan kisah nyata, kalau tidak salah, latarnya di Amerika sana. Di dalam buku ini, banyak pesan moral yang bisa kupetik. Yah, walaupun pada dasarnya di awal udah nggak minat duluan *gara-garanya si empunya buku bilang kalau ini mengenai kehidupan seks di Amerika sana*. Tapi, karena si empunya buku bilang buku ini bagus, mau nggak mau nyoba buat baca buku ini dan bener, buku ini memang bagus. :)

Kehidupan seks bebas di luar negeri sana memang bisa dikatakan sudah biasa, saking biasanya, saya sampai mrengut karena pas baca buku ini, si tokoh utama benar-benar digambarkan seorang gadis yang polos dan lugu. *Ehm..., gimanapun rupanya nggak bisa menilai semua dari satu ataupun satu untuk semua*

O, ya, sebelumnya, masih ingatkah kalian dengan rumor mengenai korban HIV yang sengaja menusukkan jarum ke tubuhnya sebelum menaruh jarum tersebut di sela-sela kursi bioskop? Berita ini sempat santer terdengar selama berhari-hari dan membuat masyarakat resah, bahkan gara-gara rumor ini, bioskop menjadi sepi unuk beberapa hari. Atau rumor mengenai tusuk gigi yang dipakai kemudian dikembalikan lagi ke wadahnya. Untuk kepastian apakah rumor itu benar atau tidak, aku kurang tau. Namun, bukankah ada kemiripan dalam cerita di buku tersebut dengan rumor yang sempat beredar? Kemiripan mengenai keinginan balas dendam oknum penderita HIV kepada orang-orang yang sehat.

Terus terang saja, aku sempat marah, tidak percaya, kasihan, dan benci pada oknum yang membuat si tokoh utama tertular penyakit HIV pula. Bagaimana tidak? Seandainya, dirimu di posisi gadis itu, apa yang kamu rasakan? Kemarahan karena masa depanmu terenggut secara paksa? Ketidakadilan karena kamu ditulari penyakit yang tidak kamu harapkan? Kesedihan akibat lingkunganmu menolakmu? Emosi-emosi itu membuat saya menjadi tercenung dan hanya bisa bergumam dalam hati, 'Jika saya ada di posisinya, mungkin saya akan marah pada lingkungan saya atau bahkan lebih memilih untuk mati saja.'
Tapi, apa salah lingkungan? Apa salah dia sampai mereka harus ikut menanggung kemarahan kita? Ketika membaca di bagian di mana, si tokoh utama mulai diterima oleh lingkungan dan kembali bersemangat untuk hidup, aku cukup terpukau dengan perubahan kondisi kejiwaannya. Dia mulai menerima kenyataan dirinya yang sudah tertular HIV dan dia tidak membiarkan orang lain ikut tertular penyakitnya juga!! Ini tercermin saat orang yang disukainya mengajaknya bermesraan dan disaat hasrat mereka sama-sama sudah tidak bisa dikontrol, dia menolak pemuda itu karena ingat, dirinya bisa melukai pemuda itu. *padahal si pemuda udah rela kalau ketularan juga* :'(

Sampai akhir membaca buku ini, aku trenyuh dengan nilai-nilai sosial dalam buku ini. Ternyata, buku ini nggak seperti yang kubayangkan. Sayang, udah lupa ama judul, penulis, bahkan ampe covernya juga kelupaan. hehehe....

Rupanya, kedewasaan seseorang itu tidak bisa dinilai dari umurnya dan kebebasan seseorang, tergantung dari kedewasaan serta hati nuraninya. Sebebas-bebasnya individu, dia tetap harus ingat mengenai dirinya sendiri dan juga orang lain. :)

Kamis, 05 Juli 2012

Catatan 20: Diriku dan Perubahan

Hai, hai semuanya. Hampir setahun aku nggak pernah ngisi blog ini lagi. Seandainya temen-temenku di forum lain nggak aktif atau menggebu dalam nulis blog, mungkin blog ini akan tetap nganggur tanpa kuperhatikan lagi. *nulis sambil cengar-cengir nggak jelas*

Catatan harian ke-20, mengenai perubahan. Hmm..., perubahan. Yah, ini sedikit banyak cukup membingungkan dan memusingkan. Dengan satu kata ini, bukan hanya saya saja tapi kalian bisa dibikin galau nggak jelas dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan. Sengaja aku mengambil judul ini karena memang saat ini aku sedang galau tentang perubahan. Mengenai transisi diriku sendiri ingin seperti apa dan ke arah apa. Kata orang, transisi diri ini dijalani, bukannya dipikirkan tetapi, kalau buat pribadiku sendiri, transisi ini pun harusnya dipikirkan tidak hanya seperti air mengalir dan yah..., hal ini cukup membuat kepalaku cenat-cenut karena terlalu banyak hal yang dipikir. *kali ini pasang muka runyam sambil nggosokin tangan ke pelipis*

Dulu aku mengira, aku nggak akan masuk ke masa yang namanya masa 'pencarian jati dii' karena aku menganggap, aku sudah mendapatkan sosok jati diriku ini dan jujur aja, ogah rasanya berada dalam keresahan selama waktu-waktu yang tidak jelas. *coba kalian bayangkan gimana mbagi waktu antara tugas, kuliah, belum lagi buat temen, terus buat ibadah, terus buat cita-cita* paling nggak saat memikirkan tentang jati diri sendiri, ini membutuhkan intensitas waktu untuk menyendiri yang lumayan besar. Keinginan untuk merenung dan menyendiri kadang membuat teman-temanku sering menyalahartikan sikap diamku. *kali ini ketawa* sering aku kegelian dengan ekspresi khawatir mereka tetapi, aku senang, rupanya ada yang mau memikirkan dan mengkhawatirkan keadaanku :malu:.

Dalam perenungan ini, aku, yang sekarang masuk ke semester tua, mulai berpikir mengenai masa depan kelak. Ini bukan hanya mengenai pekerjaan apa yang bisa kudapat melainkan tentang bagaimana rentetan daftar ambisi atau keinginan yang ingin kuraih. Ambisi dan keinginan kemudian belum lagi tentang bagaimana sikap dan tindak-tanduk yang ingin diperbaiki.

Di masa-masa seperti ini, emosi sangat rawan untuk dipermainkan dan pikiran yang tidak jernih bisa kalap membuat keputusan. Hal yang paling melelahkan juga bahwa diri sendiri menutut hal yang lebih, lebih, dan lebih untuk tetap mempertahankan eksistensi diri. Ah..., hal seperti benar-benar menyebalkan. Mengapa sih, masa pencarian jati diri itu harus ada? Apakah ini karena pengaruh lingkungan baru ataukah ini karena masa adaptasi diri dengan umur? *Yah, seenggaknya ada yang nggak berubah di diriku pada proses perubahan ini yaitu, watak seriusku yang tetap saja kebawa ke manapun aku pergi. (-___-")*

Setiap orang butuh diakui oleh lingkungannya dan setiap orang juga butuh untuk menghargai dirinya sendiri. Terkadang, saat pencarian jati diri ini, diri kita merasa rendah, merasa ingin mencaci-maki diri sendiri, pikiran negatif dominan daripada pikiran positif, dan pandangan bahwa kita lebih buruk dari orang lain selalu membayang-bayangi. Bahkan, terkadang juga ini diikuti dengan sikap takut salah dan keterpaksaan untuk melakukan suatu hal yang tidak kita sukai, bahkan bukan kebiasaan yang kita lakukan.

Dalam masa perubahan ini, ada orang yang bersikap tenang-tenang saja atau bersikap santai, ada juga yang diseriusi seperti aku, ada juga yang memilih diam *pokoknya macem-macemlah sikapnya*. Yang jelas, di waktu seperti ini, kontrol diri sangat penting. Saat sedang merasa sendiri, atau merasa sangat tertekan, yang bisa kulakukan hanya satu, berjuang mati-matian di dalam pikiran untuk mensugesti diri ke arah hal yang positif. Saat diri sendiri terjebak di dalam pikiran negatif, terus terang saja, jiwa-raga rasanya juga sakit men-judge diri sendiri sebagai orang rendahan.

Ketika orang lain tidak bisa menyemangatimu, hanya diri kamu yang bisa menyemangati dirimu sendiri. Saat otang lain tidak bisa menghibur dirimu dan mengucapkan kata-kata positif, hanya kamu yang bisa memberikan sugesti positif untuk dirimu sendiri. Ini tentang dirimu, ini tentang diriku. Terkadang rasanya tidak nyaman meninggalkan kepribadian masa lalu tetapi, bila memang tujuannya positif, mengapa tidak?

Mari kita sama-sama berjuang dalam masa pencarian jati diri ini. \(^o^)/ *bagi yang sedang menjalani masa-masa ini*


bagi yang sudah, selamat! kamu sudah melewati masa-masa yang menyulitkan dan bersiaplah untuk masa pengembangan :)

Salam

-Cahaya Senja-

Kamis, 29 September 2011

Mengapa menulis?

Hai semuanya..., blog ini sepertinya sudah kutelantarkan selama berbulan-bulan alias nggak pernah keurus lagi sejak juni lalu. Yah..., lagi asyik-asyiknya sama kaskus dan dunia tuugas-tugas kuliah, jadi blog nggak terlalu diurus. hehehehehe....

catatan kali ini judulnya mengenai 'Mengapa Menulis?', berasa kayak judul buku aja atau nggak ya? Hmmm..., kayaknya dulu aku pernah nemu buku yang isinya tentang menulis buku itu menyenangkan, menulis itu nggak susah, dan lai-lain. (-___-"). Kalau aku sendiri..., jujur saja... aku nggak tahu menulis buku itu susah atau gampang. Karena..., bagiku... menulis yang menulis, nggak kupikirkan susah atau gampangnya (saking udah seneng sama pw sama hobi ini (^___^)). Mengapa menulis? Hmm..., mengapa ya? (malah balik tanya :nohope:---> salah satu emot kaskus :ngakak).
Aku mulai belajar menulis cerita sejak kelas 4 SD dulu. Waktu itu, cara penulisan ataupun pemilihan tokohku nggak seperti sekarang ini. Tahu tulisanku waktu SD dulu gimana? (jelas nggak tahulah! (--") gimana sih ni anak!). Waktu itu aku hanya menulis satu paragraf aja. Ceritanya pun tentang Pak Tani yang menangkap ikan di sungai, terus dapet ikan banyak banget, begitu pulang, ikannya langsung dikasih ke Bu Tangi terus beberapa di-bagiin ke tetangga. hahahaha..., singkat, pata dan jelas, beda sama cerita bikinanku sekarang (-___-"). Ada lagi cerita tentang trenggiling sama semut (di-ilhami dari cerita-cerita fabel yang sering aku baca waktu kecil). Haiih..., dan satu cerita lagi tentang apa ya? ah... aku lupa.

Menginjak kelas 5 SD, iseng-iseng aku pernah nerbitin koran pagi kecil sendiri yang terbuat dari buku tulis biasa dan terdiri dari 2 halaman terus ku fotokopi lalu kujual sama teman-temanku. Hahahaha..., untung sama ruginya kok besar ruginya (-__-). Di koran pagi itu sendiri, aku buat cerita-ceria dengan gambar, terus... kubuat juga cerita-cerita lain. (penulisnya aku, editornya aku, terus yang jualan juga aku :ngakak). Menginjak kelas 6 SD, terinspirasi dari kawan-kawan yang mau pisah dan ngelanjutin ke SMP lain, aku buat cerita petualangan di sebuah buku yang biasanya buat buku arisan (-__-"), sekarang bukunya kayaknya masih ada di rak bukuku. Masuk SMP, cara penulisanku pun berkembang lagi.

Dari kelas 4 SD sampai kuliah seperti ini, udah berapa tahun ya aku menekuni ini? hmm..., mungkin ada sekitar sepuluh tahunan ata sebelas ya? he....

Menulis itu... gampang-gampang susah. Gampangnya..., saat kita tahu ada bayangan seperti apa cerita yang kita buat ini. (biasanya ane girang n bersemangat banget kalau ada ide muncul di kepala (--")) Susahnya... :D, banyak juga, hehehehe..., susahnya... kalau misalnya kita lagi menggali ide tulisan kita tapi otak kita lagi buntu untuk mengolahnya. Jadinya..., makin bingung apa yang mau ditulis. Setelah itu, kadang mengatur setting cerita atau yang lebih ribet lagi, dengan alur meloncat-loncat. (aku biasa menulis dengan alur seperti ini). ALur meloncat-loncat memang menarik tetapi, terkadang kalau kita lupa dengan apa yang kiat tulis sebelumnya, malah kadang enggak nyambung dengan yang kita tulis setelahnya (aku pernah mengalami hal seperti ini. Setelah dibaca ulang, rasanya janggal banget ceritanya -__-"). Lalu..., belum lagi kritikan dari orang-orang sekitar :malu:, mending kalau kritikannya membangun..., lhah ini... sering juga aku dapat kritikan tajam yang menjatuhkan :hammer: (kadang sedih tapi kadang juga harus tebal muka dari kritikan semacam itu :nohope:). Belum lagi kalau ditolak berkali-kali oleh penerbit :malu:, (kalau yang ini emang kudu tebal muka :D).

Seringkali aku juga ditanya, mengapa sih... kok aku suka nulis?

Bener-bener dah..., ini pertanyaan paling membingungkan yang harus kujawab. Mengapa aku suka nulis? aku juga nggak tahu kenapa. Aku hanya menyukainya, aku ngerasa senang waktu nulis, makanya... aku ngerasa enak-enak saja waktu nulis. Well..., kadang ada rasa sedih juga karena cerita ditolak oleh penerbit tetapi, itu bukan berarti harus putus asa dalam menulis :D. (aku berkali-kali mutung(marah) karena hal seperti ini tetapi balik lagi..., yah... berpikir positif dan lebih mengolah lagi cerita-cerita yang ingin disampaikan.). Yah..., bagi kalian yang suka nulis :D, asah terus kemampuan nulis dan kepekaan emosional kalian ya :D, siapa tahu... kelak... kalian jadi penulis buku yang bermanfaat bagi banyak orang :).

Ada seseorang yang mengatakan padaku seperti ini..., 'Tidak ada pelaut ulung yang datang dari laut yang tenang.'

aku rasa... kalian tahu maksud kata-kata di atas :D

Yah..., sekian catata singkat dariku. Malam semuanya :).

Salam Kedamaian,
-Cahaya Senja-

Kamis, 23 Juni 2011

catatan 19: Anjing Gila

Siang yang cerah sekaligus panas yang membakar. (-___-") udah sering merasakan panas, kalau pulang kampung malah jadinya kedingingan, hahahahah. Untuk yang menunggu mengenai lanjutan cerpennya, maaf ya, aku tunda dulu. Soalnya idenya mampet di pikiran (-___-"). Aih..., sekarang aku pengin cerita mengenai lingkungan tempatku tinggal. Aku menulis ini terinspirasi dari salah satu status fb temanku beberapa waktu yang lalu. wkwkwkwk...

Jadi begini..., aku tinggal di lingkungan perumahan. Bukan perumahan mewah sih (ngarepnya, hahaha..), hanya sekedar perumahan biasa (^___^) tapi cukup tenang dan seringnya.... sepi! :nohope: Andai aja di blog juga ada emot kaskus, :mewek, :hammer:. Nah..., salah seorang tetangga berlainan gang memelihara seekor anjing. Aku nggak tahu jenisnya sih, tapi... anjing ini kecil dan warnanya hitam, seringnya dipanggil Bleki. :ngakaks Namanya mirip sama nama anjing tetanggaku yang dulu. Bedanya cuma di awal doang, dia Bleki, yang dekat rumahku Pleki. Kok pada suka yang berakhiran Ki ya? :bingung:

Nah..., Si Bleki ini... paling membuat takut, istilah kerennya parno :nohope:, beberpaa mbak kosku. Aku... sendiri sebetulnya nggak terlalu takut (Soalnya waktu SD sering banget ngejekin anjing tetangga sebelah rumah. -___-" kurang kerjaan banget pas aku kecil dulu.), tapi berhubungan mereka selalu bikin aku kaget dan menghindar dari Bleki, akhirnya aku jadi ikutan takut juga. :hammer: Takut dikejar n digigit maksudnya.

Gara-gara itu tiap kali lewat depan rumah orang melihara Bleki, perasaan waswas selalu menghantui. Pernah aku lewat sana malam-malam, si Bleki bernyanyi riang eh... maksudnya menyalak ringan, langsung ngibrit sampe diketawain orang (orang apa orang ya? :bingung:). Pernah juga dengar suara derap kaki kecil, Aku kira itu Bleki yang malem-malem keluyuran trus keluar dari kandangnya trus sedang mengejar mangsa, nggak tahunya cuma suara rantai sepeda, orang yang baru aja lewat. Jiah...!! :nohope:, padahal aku udah siap-siap mau lari, nggak tahunya cuma salah mbedain suaranya aja.

Berdasarkan status fb teman dan pengalamanku waktu kecil dulu, ah... bukan berdasarkan ding, soalnya tuh status udah berbulan-bulan yang lalu. Sekedar saran untuk pembaca yang ingin menghindari kejaran anjing adalah
1. Lari
2. Nggak bisa lari? Paksain Lari dong! :ngakaks
3. Kalau nggak bisa dipaksain lagi, nunggu si empunya anjing manggil tuh anjing supaya nggak nggigiit kita. -___-" (tapi kalau nunggunya kelamaan yah... sama aja korban gigitan.)

Sekian, (^___^)
Cahaya Senja