Kamis, 23 Juni 2011

catatan 19: Anjing Gila

Siang yang cerah sekaligus panas yang membakar. (-___-") udah sering merasakan panas, kalau pulang kampung malah jadinya kedingingan, hahahahah. Untuk yang menunggu mengenai lanjutan cerpennya, maaf ya, aku tunda dulu. Soalnya idenya mampet di pikiran (-___-"). Aih..., sekarang aku pengin cerita mengenai lingkungan tempatku tinggal. Aku menulis ini terinspirasi dari salah satu status fb temanku beberapa waktu yang lalu. wkwkwkwk...

Jadi begini..., aku tinggal di lingkungan perumahan. Bukan perumahan mewah sih (ngarepnya, hahaha..), hanya sekedar perumahan biasa (^___^) tapi cukup tenang dan seringnya.... sepi! :nohope: Andai aja di blog juga ada emot kaskus, :mewek, :hammer:. Nah..., salah seorang tetangga berlainan gang memelihara seekor anjing. Aku nggak tahu jenisnya sih, tapi... anjing ini kecil dan warnanya hitam, seringnya dipanggil Bleki. :ngakaks Namanya mirip sama nama anjing tetanggaku yang dulu. Bedanya cuma di awal doang, dia Bleki, yang dekat rumahku Pleki. Kok pada suka yang berakhiran Ki ya? :bingung:

Nah..., Si Bleki ini... paling membuat takut, istilah kerennya parno :nohope:, beberpaa mbak kosku. Aku... sendiri sebetulnya nggak terlalu takut (Soalnya waktu SD sering banget ngejekin anjing tetangga sebelah rumah. -___-" kurang kerjaan banget pas aku kecil dulu.), tapi berhubungan mereka selalu bikin aku kaget dan menghindar dari Bleki, akhirnya aku jadi ikutan takut juga. :hammer: Takut dikejar n digigit maksudnya.

Gara-gara itu tiap kali lewat depan rumah orang melihara Bleki, perasaan waswas selalu menghantui. Pernah aku lewat sana malam-malam, si Bleki bernyanyi riang eh... maksudnya menyalak ringan, langsung ngibrit sampe diketawain orang (orang apa orang ya? :bingung:). Pernah juga dengar suara derap kaki kecil, Aku kira itu Bleki yang malem-malem keluyuran trus keluar dari kandangnya trus sedang mengejar mangsa, nggak tahunya cuma suara rantai sepeda, orang yang baru aja lewat. Jiah...!! :nohope:, padahal aku udah siap-siap mau lari, nggak tahunya cuma salah mbedain suaranya aja.

Berdasarkan status fb teman dan pengalamanku waktu kecil dulu, ah... bukan berdasarkan ding, soalnya tuh status udah berbulan-bulan yang lalu. Sekedar saran untuk pembaca yang ingin menghindari kejaran anjing adalah
1. Lari
2. Nggak bisa lari? Paksain Lari dong! :ngakaks
3. Kalau nggak bisa dipaksain lagi, nunggu si empunya anjing manggil tuh anjing supaya nggak nggigiit kita. -___-" (tapi kalau nunggunya kelamaan yah... sama aja korban gigitan.)

Sekian, (^___^)
Cahaya Senja

Selasa, 03 Mei 2011

Catatan 18: Ngelantur (-___-")

Hai semuanya.... (^___^),
Lama nggak nulis di sini. Terakhir kali nulis kalau nggak salah hari Rabu. Hahahaha..., gara-gara kecanduan ngaskus akhir-akhir ini, blogku jadi nggak keurus kayak gini. (-___-"). Bagaimana kabar kalian? Sehatkah? Semoga sehat-sehat saja dan diterima amal ibadahnya di sisiNYA -ups...!! hehehe..., bercanda :Peace:-

Sesuai dengan judulnya, kira-kira aku pengin nulis apa yang kupikirkan di sini dengan bahasa yang...... ngelantur (-___-").

Pertama-tama, aku teringat ketika di rumahku mati lampu. Hmmm...., ini mah... gara-gara sambungan listriknya yang kagak beres. ALhamdulillah sekarang udah dibenerin. Pada waktu itu, posisi di malam hari. AKu sama seorang mbak kost-ku di rumah. Hujan pun turun. Akhirnya..., aku nitip makan dah ama mbak kost-ku yang lain. Jiah..., buat ngeramein suasana malam di kost yang sepi, aku nyetel MP3 keras-keras dan lagunya.... macem-macem sih. ADa lagu india, jepang, korea, rohani, inggris, dan lain-lain (saking banyaknya). Nah..., sewaktu itu, kira-kira saya ngikuti lagu apa, ya? -hem... mikir dulu-. Ah... kagak ingat saya. Nah..., saya terus nyanyi-nyanyi juga dengan pedenya sekalipun suara saya ini..... pas-pasan (-___-"). Akhirnya..., tanpa memperdulikan suara dengungan nyamuk yang ada di sekitar saya, saya pun mengikuti irama lagu tersebut sampai pada batas... ada seekor nyamuk masuk ke dalam mulut saya.

"Aih...!!!" Saya langsung tersedak seketika. Ckckckck...T___T", nasib sial! Penginnya nyanyi malah kesedak nyamuk. Mana tuh nyamuk susah dikeluarin dari tenggorokan lagi. Mbak kostku malah ketawa aja ngeliat aku terbatuk-batuk gara-gara keselek nyamuk.

Ada pelajaran yang bisa saya mabil dari sini:
1. kalau nyanyi, pastikan di sekitar saya tidak banyak nyamuk. Apalagi kalau mati lampu. Supaya... kagak keselek nyamuk lagi. -___-"
2. Jangan buka mulut terlalu lebar supaya nyamuk kagak terbang ke dalam mulut.
3. Ane kapok... nyanyi-nyanyi lagi pas mati lampu. T___T

Melantur membuat pembicaraan menjadi semakin tidak jelas dan memusingkan kepala yang udah pusing. Disarankan, jika anda tengah mengalami demam ngelantur kuadrat untuk diam sejenak dan.... Tidur?? Aih..., ngomong mulai tidak jelas.

Tanya kenapa??

Rabu, 27 April 2011

Catatan 17: Langitku

Aku tak bisa berucap, hanya termenung dan terdiam. Denting kecil itu terdengar samar di telinga, membuatku ingin memejamkan mata dan terlelap di dekatnya. Ah..., denting tiba-tiba terhenti. Aku mengangkat kepala dan memandang sekeliling. Sepi, sunyi, semua terasa gelap. Di mana suara itu? Kenapa suara itu menghilang?

Ah... semuanya kembali terasa hambar. Sepi, senyap, tak ada rasa. Rumit! Berkembang menjadi rumit atau... aku sendiri 'kah yang membuatnya menjadi rumit? Aku... tak mengerti. Denting itu... aku ingin mendengarnya kembali. Aku ingin terlelap bersamanya. Ya... satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah terlelap dalam kehidupan yang kadang membuatku merasa jenuh.

Langit... mengapa kau begitu sulit untuk kugapai? Mengapa kau begitu sulit untuk kucari? Banyak hal telah berlalu dan kau tak kunjung muncul di hadapanku. Tak tahukah kau... itu benar-benar menyiksaku? Merindu tanpa sebab, benci tanpa diminta, mencintai... tanpa bayangan. Aku ingin bertemu tapi aku pun takut. Banyak sekali dalam pribadi ini yang sulit dipahami oleh banyak orang.

Denting... tidurkanlah aku. Lelapkan aku pada kesendirianku. Biarkan aku tenggelam dalam gelapnya malam yang menyesakkan. Jangan pernah bangunkan aku dari kesedihanku. Biarlah dia terlunta-lunta mencari bagian dari dirinya yang hilang dan biarkan potongan kecil ini terkubur dalam kesunyian.

Begitu banyak orang yang dengan mudahnya mengatakan cinta. Namun... diri ini tak sanggup mengatakannya pada langit. Tak terlihat tetapi terasa. Kesedihan ini meresap dalam sanubari yang paling dalam. Aku menunggumu. Bangunkan aku dari lelap yang menyedihkan ini. Pecahkanlah denting pelelap yang memisahkan kita.

Langit... tahukah kau... bagaimana hakikat cinta itu yang sebenarnya?
Langit... tahukah kau... seperti apa rasa rindu yang membuat leherku tercekik?

Aku menginginkan dirimu. Aku merindukanmu. Namun, aku tahu... waktu di depanku masih gelap. Siapa yang berdiri di depanku... masih tak terlihat. Lembaran itu masih kosong. Belum ada.. yang membantuku mengisi kekosongan itu bersama-sama. Ceritaku... pada denting waktu yang berjalan.

Sabtu, 09 April 2011

Kasus 1: Sekolah Mafia atau Mafia sekolah?

Bayu berkali-kali geleng-geleng kepala ketika menonton berita di televisi yang menceritakan tentang tawuran yang terjadi di sekolahnya pagi tadi. Sampai sekarang, dikatakan bahwa anak-anak pelaku tawuran tersebut belum tertangkap karena begitu gesitnya mereka kabur ketika polisi mendekati areal kerusuhan. Ibunya yang ikut menonton peristiwa ini hanya bisa ber-istigfar karena kelakuan anak-anak muda itu. Ayah Bayu, yang sedang tugas, sempat menelepon ke rumah dan menanyakan kabar Bayu. Pria itu kelihatan lega mendengar kabar bahwa anak sulungnya baik-baik saja dan dalam keadaan sehat wa'alfiat.

Enjih menutup HP-nya setelah mendengar ceramah panjang lebar dari ibunya. Bapaknya juga sempat sms supaya dirinya jangan keluar dari kompleks area perumahan TNI sampai mereka nanti datang menjemput. Kedua Orangtuanya benar-benar
takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak jika Enjih berani keluar untuk saat ini. Situasi saat ini masih kurang menguntungkan untuk anak-anak dari sekolah Perketi Luhur (nama sekolah ini hanyalah fiktif belaka).

Budi baru saja selesai sms pada adik perempuannya untuk mengabari kepada Abah dan Emak kalau dirinya baik-baik saja. Lita, Rina, dan Edo juga kini bergabung bersama Enjih, Bayu dan Budi, satu jam setelah mereka dikabari untuk segera datang ke rumah Bayu.

Ketiga anak itu sudah berada lebih dulu di sekolah saat penyerangan berlangsung sehingga, ketika ketiga kawannya mengontak mereka untuk segera pergi dari sekolah, mereka bertiga langsung memutar otak supaya bisa keluar dari sekolah tanpa ketahuan oleh para penyarang. Akhirnya, dengan suatu kesulitan tingkat tinggi serta kemampuan yang benar-benar diusahakan, ketiganya meminjam kostum dari pihak teater dan pergi dari sekolah. Edo -> sebagai orang gila, Rina -> mahasiswa, dan... Lita -> preman nyasar (^__^"). Mereka bertiga betul-betul gugup dengan penyamaran mereka sendiri sekalipun alhamdulillah..., mereka bisa lolos dari kejaran para pelaku tawuran.

"Ah..., aku dapat alasannya...!!" seruan Edo membuat perhatian orang-orang yang ada di depan ruang TV beralih kepadanya. Kini, tinggal mereka berenam yang ada di ruangan itu. Ibu Bayu sudah beralih ke dapur untuk memasak. Adik-adik Bayu sendiri masih bersekolah.

"Alasan apa?" Lita menyerngitkan dahi, penasaran.
"Alasan siswa SMA AdiLuhung (ini juga nama fiktif) menyerang sekolah kita," Edo menunjukkan HPnya pada kawan-kawannya. Mereka berlima langsung mengerubungi pemuda itu dan satu per satu membaca sms di kota masuk HP Edo secara bergiliran.

"Aku punya kawan dekat di SMA AdiLuhung," Edo mulai menjelaskan bagaimana dia mendapat informasi ini. "Dia temanku di SD dan SMP. Katanya..., dia juga kaget ketika Gurunya memberitahukan pada mereka kalau ada beberapa kawan mereka yang menyerang SMA kita. Jujur, dia prihatin dengan peristiwa ini. Saat kutanyakan alasan kawan-kawannya menyerang kita, dia menjawab kalau itu karena mantan pacar pimpinan Geng Kapak Hitam (Nama yang di-ilhami dari geng Kapak merah (-__-")) direbut oleh salah satu siswa kelas XII sekolah kita. Entah namanya siapa. Nah, merasa tidak terima, harga dirinya terenggut atau apalah, karena si ketua geng pengin balikan dengan mantannya, makanya... tawuran ini terjadi."

"Hanya karena itu...!!!" Rina ternganga mendengar penjelasan rincinya.
"Ya Tuhan...!!! Waktu yang bisa dipakai untuk menuntut ilmu jadi terbuang gara-gara masalah seperti itu...!!!" Enjih kembali mengumpat. "Duh Gusti....!!! Paringano bedil...!! Rasane pengin nembak bocah-bocah kuwi...!!" pemuda itu mengumpat lagi, marah-marah.
"AKu tak habis mengerti..., kenapa mereka menyerang kita hanya karena masalah ini," Lita geleng-geleng kepala. "Mereka itu sebenarnya niat sekolah atau cuma mau pamer kekuatan saja?" ia juga ikut-ikutan mengumpat.

Edo cuma bisa mengangkat kedua bahunya. Pikirannya juga sama seperti kawan-kawannya. Ia tak habis mengerti..., mengapa mereka tega menyerang sekolah mereka? Hanya karena satu orang yang mereka incar, hampir seluruh anak-anak di sekolah Pekerti Luhur kena batunya.

Bayu diam. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Gimana nih, Yu?" Enjih menatap kawannya dengan tatapan ingin balas dendam. "Rasanya..., aku pengin memukuli mereka satu per satu." Ia kelihatan tidak sabar untuk melampiaskan amarahnya pada kawanan berandalan kecil itu.
"Tenang dulu, Njih," Bayu melirik kawannya. "Kalau kita menyerang mereka dengan cara yang sama seperti mereka, itu membuat kita sama rendahnya seperti mereka." Ia menarik nafas dalam-dalam. Aura kepemimpinannya menguat. "Aku ada ide untuk memberi 'pelajaran' terhadap mereka." seringai senyuman sinis terbentuk di wajahnya yang terlihat ramah.

"Wah..., kami jadi tidak sabar mendengarkan rencananya, Ndan," Budi ikut-ikutan tersenyum. Kalau Bayu sudah menampilkan senyum tersinisnya seperti ini, itu berarti... dia punya ide cemerlang untuk pemecahan masalah mereka.
"Oke, Ndan! Kita siap bekerja kok!" tutur Edo bersemangat. Ia kelihatan tidak sabar untuk memulai aksinya.

Bayu tetap tersenyum. Ia menepuk bahu kanan Enjih. "Tapi... kita tidak bisa bekerja sendirian," terangnya. "Kita... butuh bantuan 'beberapa pihak'."

Bersambung....

Senin, 04 April 2011

Kasus 1: Sekolahan...

Berkali-kali Enjih menguap pelan saat berjalan malas menuju sekolahannya di ujung kampung sana. Pemuda itu masih terlihat mengantuk. Hmm..., efek gara-gara main game semalaman dengan adiknya (-__-"), akhirnya... dia jadi ogah-ogahan berangkat ke sekolah seperti ini. Sekali-kali, dia juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya..., kedua matanya juga masih berat buat diajak menuntut ilmu bareng-bareng. Wah..., siraman air dari Ibunya rupanya kurang tuh :D. Hehehehe..., nggak bangun-bangun juga padahal alarm sholat subuh udah berbunyi berkali-kali, si Ibu pun ambil segayung air kemudian menyiram Enjih supaya tuh anak bangun sampai-sampai..., tuh anak megap-megap sambil teriak-teriak kebanjiran gara-gara kaget. (^0^) (salah satu cara yang dilakukan orangtua kalau anaknya bangun kesiangan -__-").

Sebuah tepukan keras di bahu membuat Enjih meringis. Pemuda itu menoleh ke samping kanannya dan ternyata si Budi sama Bayu udah berada di sampingnya.

"Kenapa kamu? Kelihatan males banget?" Budi menyerngitkan dahi melihat Enjih kembali menguap.

"Semalam aku main game bersama adikku," jawab Enjih. "Sampe jam 1 pagi."

"Kalau Ibuku tahu jam 1 aku belum tidur, sangat diyakinkan kalau esoknya, peralatan gameku bakal disita," timpal Bayu.

"Makanya..., jangan sampai tahu, dong," balas Enjih datar.

"Sudah ngerjain Tugas Matematika?" Budi kembali bertanya.

Enjih mengangguk pelan. "Pagi tadi."

"Hei..., semangat dikit, dong," Budi menyenggol lengan kanannya. "Masa' kamu mau
ngantuk seperti ini terus dari pagi sampai siang."

Enjih diam, tidak menanggapi. Kalau lagi bad mood seperti ini dia memang lebih suka diam, tanpa berkata-kata. Sebentar lagi mereka sampai di tikungan kemudian jalan besar. Menyeberang, sampailah mereka di sekolah. Namun, pandangan ketiga pemuda itu berubah menjadi heran melihat sekawanan anak-anak berseragam seperti mereka, lari terburu-buru, menjauh dari sekolah. Beberapa mobil, motor, serta orang-orang juga terlihat sibuk berbalik arah.

"Hei...!! Hei...!! Ada apa ini?" Bayu menghentikan salah satu dari anak-anak itu. Dari bet yang dijahit di lengan kanannya, Bayu tahu kalau mereka siswa kelas satu.

"Anu..., Kak..., mending Kakak bertiga cepat pergi...!!" jawabnya terburu-buru dengan badan gemetaran. "Sekolah diserang...!! Tawuran, Kak...!! Tawuran...!!" setelah berkata seperti itu, dia buru-buru pergi menyelematkan diri bersama kawan-kawannya.

"Tawuran?" Budi menyerngitkan dahinya. Masa' sih?, pemuda itu berlari kecil, menuju ke tikungan untuk melihat kondisi yang sebenarnya. Begitu melihat di ujung gang sana, ekspresi wajah Budi berubah menjadi ketakutan. Siswa dari sekolah lain tengah menyerbu sekolah mereka, menyerang anak-anak sekolah dengan batu. Beberapa siswa dari sekolah Budi juga mengadakan perlawanan. Mereka balik menyerang.

Beberapa di antara siswa dari sekolah lain melihat Budi tengah memandangi mereka. lima dari gerombolan siswa penyerang itu berteriak, menunjuk ke arah Budi. Pemuda itu gelagapan ketika siswa-siswa itu mengejarnya sambil membawa senjata tajam. Dia langsung memberi isyarat pada kawan-kawannya untuk lari. Pertamanya, Bayu dan Enjih masih biasa saja ketika melihat Budi berlari ke arah mereka. Namun, begitu melihat para pengejar Budi, nyali keduanya langsung menciut. Serta merta, mereka bertiga lari tunggang -langgang menyelamatkan diri.

"Ke mana kita pergi?!" seru Budi dengan wajah pucat pasi. Dia membayangkan kalau dirinya bakal babak-beluk dihajar habis-habisan oleh para berandalan sekolah itu. Apalagi... mereka membawa senjata tajam. Bisa mati dia!!!

"Ke rumahku saja...!!!" seru Bayu lantang. "Mereka tidak akan berani masuk ke kompleks perumahan TNI...!!!" Ia makin mempercepat larinya. Hmmm..., rupanya latihan fisik yang sellau ditekankan Ayahnya setiap pagi berguna juga.

Mereka bertiga terus dan terus berlari sampai akhirnya tiba di gerbang kompleks perumahan TNI. Begitu masuk ke dalam, para pengejar langsung berhenti mengejar mereka. Kelima berandalan itu terlihat takut begitu melihat simbol-simbol TNI di kawasan perumahan itu. Haaa..., memangnya mereka mau dihukum oleh bapak-bapak anggota TNI?? Menghajar anak-anak itu di sana sama saja mereka cari mati!! Setelah berunding sejenak, kelimanya memutuskan kembali bergabung bersama kawan-kawan mereka.

Sementara itu, Budi dan kedua temannya masih terus berlari sampai akhirnya mereka tiba di titik yang dianggap aman. Beberapa Ibu-Ibu yang sedang menyapu halaman, menyerngitkan dahi melihat anak-anak berseragam itu berlari ngos-ngosan macam itu. Beberapa bapak-bapak anggota TNI juga sepertinya keheranan melihat mereka.

"HISH...!!" Enjih mengumpat kesal. "Siapa sih mereka...?! Berani-beraninya mereka menyerang sekolah kita...?!" gerutunya sebal. Ia bisa menjamin, sekolah hari ini pasti diliburkan.

Budi berusaha mengatur pernafasannya. "Dari atribut seragam mereka..., aku rasa... mereka siswa..."

"Mereka bukan siswa," potong Bayu sengit. "Mereka itu berandalan tidak tahu aturan yang tidak punya peradaban...!!" gerutunya marah.

Budia diam sejenak. Ia membiarkan kedua kawannya marah-marah terlebih dahulu. Setelah keduanya lumayan tenang, baru Budi melanjutkan kata-katanya kembali. "Mereka sepertinya dari SMA XXXX. Aku kenal baik atribut seragam mereka."

"Ya Tuhan...!!" keluh Enjih kesal. "Apalagi yang mereka ributkan dari kita?" gigi-giginya bergemelutuk keras.

Budi mengangkat bahu, tidak tahu.

"Aku rasa..., kita harus cari tahu tentang masalah ini," tukas Bayu. "Bagaimana kalau sekarang juga kita berkumpul? Coba sms Rina, Edo, dan juga Lita. Minta mereka untuk datang ke rumahku secepat mungkin." perintahnya dengan logat yang khas.

Budi dan Enjih mengangguk mematuhi.

Bersambung....

Selasa, 29 Maret 2011

Catatan 16: Ibu Oh Ibu...

Kasih Ibu... terhadap beta...
tak terhingga sepanjang masa...
Hanya memberi...
tak harap kembali...
Bagai Sang Surya menyinari dunia...


Ibuku... merupakan orang yang keras tetapi... dia adalah seorang wanita yang sangat baik. Aku tak ingat berapa kali kenakalan yang kubuat hingga merepotkannya tetapi..., beliau selalu saja memaafkanku.

Jadi ingin mengenang masa kecil... (^___^), kawan-kawan ingat dengan masa kecil dulu tidak? Hahahaha..., saya ingin bercerita sedikit mengenai masa kecil saya. Tapi... jangan ditertawakan ya :)

Kalau tidak salah..., saat itu saya kelas 3 SD. Pernah..., suatu ketika saya ijin dari sekolah karena sakit. Namun, begitu sampai di rumah, perasaan saya ngganjel mengingat mata pelajaran IPA pada waktu itu. Akhirnya..., dengan badan meriang, saya pun praktek sendiri di rumah, membuat kapal Apollo (itutuh... yang dibuat dari plastik yang diisi air sabun). Waktu itu, saya asyik saja bermain air sampai Ibu saya pulang dari kantor. (Ibu saya seorang pekerja). Begitu melihat saya bermain air, wahhh..., Ibu saya langsung teriak dan marah-marah pada saya. Hmmm, saya nggak terlalu ingat bagaimana tanggapan saya atas kemarahan Ibu saya tetapi, setelah itu Ibuku menyuruhku untuk tidur.

Pernah juga..., saya disuruh untuk menghafalkan rumus matematika. Karena dasarnya nggak suka, saya pun nggak memperhatikan apa yang diajarkan Ibu saya (beliau lulusan tehknik sipil. Jadi... matematikanya lumayan kuat begitu (-___-")). Saya maish ingat dengan jelas... kalau Ibu saya langsung marah sampai membuat saya ketakutan.

Hahahaha. Dasar bocah! (-___-") yang diingat dari Ibu kok pas marah-marahnya melulu. Yah..., mau gimana lagi, ingatan yang paling kuat memang pas Ibu marah-marah kok.

Saat aku kecil, aku tak paham mengapa Ibuku sering marah-marah padaku kemudian memaksaku dengan apa yang tidak aku sukai. (Dulu saya sering dipaksa untuk makan karena paling susah buat makan. Selalu, setiap pulang kantor pasti Ibu saya bertanya, "Sudah makan belum?"). Sekarang..., saya memahami, mengapa Ibu berbuat seperti itu. Saat sakit lalu saya bermain air, Ibu khawatir kalau demam saya semakin tinggi (lha wong dolanan banyu wae 'o...). Saat saya tak hafal rumus matematika, Ibu takut kalau kelak saya tinggal kelas karena tidak menguasai pelajaran tersebut. Lalu..., ketika beliau memaksa saya untuk makan apa yang kadang tidak saya sukai..., Ibu hanya ingin memastikan... apakah gizi saya cukup atau tidak?

Ibuku memang bukan manusia yang sempurna, beliau memiliki kelebihan dan kekurangan. Sampai sekarang pun..., Ibu sangat memperhatikanku. Entah apa yang aku makan ataupun apa yang aku pakai. Apakah di kos-kosan tidurku cukup atau tidak? Karena itu..., berita di televisi baru-baru ini mengenai Ibu kandung yang tega membunuh anaknya sendiri, jujur...!! hal itu membuat saya kaget. Bagaimana bisa seorang Ibu melakukan hal itu terhadap darah dagingnya, buah hatinya sendiri?! -geleng2 kepala-

Kawan-kawanku yang kelak akan menjadi seorang Ibu, kalian merupakan guru bagi pemimpin-pemimpin kecil masa depan. Jangan sia-siakan waktu kalian untuk hal-hal yang merusak kalian maupun si kecil dalam rahim kalian. DI tangan kalian, penerus bangsa akan lahir. Jika kalian menyayangi diri kalian sendiri, aku rasa... kalian pun menyayangi si kecil manis yang tumbuh di dalam diri kalian.

Maafkan anakmu yang sering merepotkanmu ini, Bu. :'(
Salam
-Cahaya Senja-

Sabtu, 19 Maret 2011

Angin Tak Patah Semangat

Bayu mondar-mandir di halaman belakang rumahnya. Pemuda cepak berkaos biru dengan celana panjang warna hitam itu beberapa kali menge-cek makanan serta minuman yang tersaji di atas meja panjang. Hmmm..., es teh, ada. biskuit, ada. trus..., tempe gembus, ada. Setelah itu..., jeruk sama pisang, juga ada. Oke... oke..., sekarang dia nggak perlu resah karena semua makanan kesukaan beberapa kawannya sudah siap. Ehm..., lalu apalagi, ya? Oh, ya..., buku catatan sama perlatan nulisnya juga udah. Sekarang..., Bayu berhenti mondar-mandir. Ia diam, berpikir. Adik perempuannya, Nia, yang umurnya baru 10 tahun, cuma menatapnya dengan tatapan heran. Mungkin.., yang ada di pikirannya adalah... 'Kakaknya ini ngapain, sih? Dari tadi kok mondar-mandir mulu?' (^___^")

"Ting... Tong...!!!"
terdengar bunyi bel di luar rumah. Bayu langsung sigap. Ia berlari ke halaman samping rumahnya sampai membuat Nia kaget.
Pemuda itu tampak cekatan membuka pintu pagar halaman samping rumah yang langsung menembus halaman depan rumah (hayo..., kira-kira bisa membayangkan desain rumahnya apa nggak? (^___^)).

Wajahnya kelihatan sumringah ketika melihat Budi, Enjih, dan Rina sudah tiba lebih dulu. "Dari tadi aku nungguin kalian lho," ia tersenyum lebar. Wajahnya jadi terlihat menyenangkan jika sedang tersenyum seperti ini.

"Ah...., Bayu kangen sama aku, ya?" Enjih berlari-lari ringan dengan 'gaya' menggodanya yang khas.

Ekspresi wajah Bayu langsung berubah. "Mau kukarungin? Di rumah kebetulan banyak karung beras kosong lho," ucapnya dengan nada serta mimik muka yang mengerikan.

Enjih langsung tertawa dan berhenti tepat didepan dengan Bayu. "Sabar, bro," Dia menepuk pundak pemuda itu kemudian berjabat tangan dengannya. "Aku 'kan cuma bercanda." Ia lalu menambahkan. "Lagian..., kamu 'kan udah tau gaya bercandaku." imbuhnya dengan nada centil.

Bayu langsung membanting keras-keras jabatan tangan Enjih sampai pemuda itu meringis sakit. Anak sulung dari empat bersaudara itu langsung 'ngamuk-ngamuk' nggak karuan. Enjih yang tadinya pengin ngerutuki kawannya malah tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Bayu yang jijay plus risih.

Budi dan Rani saling bertatapan. Keduanya terlihat ingi tertawa tapi takut Bayu makin marah-marah. Jujur saja..., lawakan Enjih pada Bayu sama sekali nggak berubah. Sekalipun Enjih tahu kalau kawannya ini nggak suka digodain seperti itu, tapi... dasarnya dia suka usil, tetep aja digodain seperti itu. (^___^")

"Kalian itu memang akrab sekali, ya. Aku jadi iri," giliran Budi yang meniru gaya Enjih tadi. Baru saja dia mau berlari kecil menghampiri Bayu tetapi dia langsung diam mematung di tempat gara-gara Bayu menatapnya dengan tatapan ingin membunuh.

Rina tertawa melihat keadaan ini. "Sudah, sudah. Kapan mau belajarnya kalau kalian dari tadi main melulu?"

"Salahkan dua unyil ini. Dari tadi mereka menggodaku melulu," ujar Bayu kesal.
"Ah..., kami 'kan cuma bercanda," tukas Budi dan Enjih bersamaan.

Bayu melotot ke arah mereka berdua.

"Oh, ya..., Lita dan Edo mana? Mereka belum datang?" Budi menatapnya.
"Baru kalian yang datang. Mungkin... mereka agak sedikit terlambat," jawab Bayu sambil memiting Enjih karena kawannya ini mulai merayu dia lagi. Enjih sendiri tertawa terpingkal-pingkal karena sikap Bayu.
"Hoooo..." Budi dan Rina ber-koor secara serempak.

Namun..., tak sampai lima menit. Kedua orang yang dibicarakan datang bersama sepeda mereka. Bayu terlihat senang karena kawan-kawannya telah berkumpul. Setelah ber-haha-hihi sejenak karena sudah lama tidak pernah bertemu (padahal..., mereka cuma nggak ketemuan selama seminggu!!) Keenam anak itu pun pergi menuju ke halaman belakang rumah Bayu yang luas. (Maklum..., halaman belakang rumah Bayu itu kebon luas yang ditanami berbagai macam pohon buah dan sayur-sayuran (^___^). Lebih enakan ngumpul di tempat itu daripada di tempat lain. Soalnya... anggaran terbatas).

Enjih berlari mendahului kawan-kawannya. Dia tampak paling senang sendiri karena tempe gembus kesukaannya sudah dihidangkan. Si Edo mengelus-elus perutnya. Perutnya udah lapar minta diisi buah atau roti. Lita sendiri kelihatan cerewet mengomentari keadaan si Budi yang dari dulu nggak pernah berubah, tetap ceking (kurus kering). Rina bercakap-cakap dengan Bayu, membicarakan masalah anggaran kelompok yang makin menipis.

Begitu mereka sampai di halaman belakang dan duduk di tempat masing-masing, mulailah mereka berdiskusi bersama sambil mecomot makanan yang ada di atas meja. Rina mengeluarkan notebooknya serta beberapa artikel yang sudah ia gunting. Lita mengambil pena serta buku catatannya. Edo, hmmm... yang ini juga jelas mengeluarkan laptop serta modemnya. Nah... mereka bertiga mulai sibuk merancang apa yang akan mereka rencanakan bersama si Bayu.

Lha..., Budi sama Enjih... (^___^")..., ehm... keduanya seperti penggembira aja dalam kelompok itu. Eits..., tapi jangan salah, mereka berdua itu justru punya 'tugas' yang paling penting, lho... (^___^), yaitu... 'petugas lapangan'. Hehehehe..., yang jelas bukan motongin rumput lho.

-> Next episode..., Kasus 1.