Kamis, 05 Juli 2012

Catatan 20: Diriku dan Perubahan

Hai, hai semuanya. Hampir setahun aku nggak pernah ngisi blog ini lagi. Seandainya temen-temenku di forum lain nggak aktif atau menggebu dalam nulis blog, mungkin blog ini akan tetap nganggur tanpa kuperhatikan lagi. *nulis sambil cengar-cengir nggak jelas*

Catatan harian ke-20, mengenai perubahan. Hmm..., perubahan. Yah, ini sedikit banyak cukup membingungkan dan memusingkan. Dengan satu kata ini, bukan hanya saya saja tapi kalian bisa dibikin galau nggak jelas dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan. Sengaja aku mengambil judul ini karena memang saat ini aku sedang galau tentang perubahan. Mengenai transisi diriku sendiri ingin seperti apa dan ke arah apa. Kata orang, transisi diri ini dijalani, bukannya dipikirkan tetapi, kalau buat pribadiku sendiri, transisi ini pun harusnya dipikirkan tidak hanya seperti air mengalir dan yah..., hal ini cukup membuat kepalaku cenat-cenut karena terlalu banyak hal yang dipikir. *kali ini pasang muka runyam sambil nggosokin tangan ke pelipis*

Dulu aku mengira, aku nggak akan masuk ke masa yang namanya masa 'pencarian jati dii' karena aku menganggap, aku sudah mendapatkan sosok jati diriku ini dan jujur aja, ogah rasanya berada dalam keresahan selama waktu-waktu yang tidak jelas. *coba kalian bayangkan gimana mbagi waktu antara tugas, kuliah, belum lagi buat temen, terus buat ibadah, terus buat cita-cita* paling nggak saat memikirkan tentang jati diri sendiri, ini membutuhkan intensitas waktu untuk menyendiri yang lumayan besar. Keinginan untuk merenung dan menyendiri kadang membuat teman-temanku sering menyalahartikan sikap diamku. *kali ini ketawa* sering aku kegelian dengan ekspresi khawatir mereka tetapi, aku senang, rupanya ada yang mau memikirkan dan mengkhawatirkan keadaanku :malu:.

Dalam perenungan ini, aku, yang sekarang masuk ke semester tua, mulai berpikir mengenai masa depan kelak. Ini bukan hanya mengenai pekerjaan apa yang bisa kudapat melainkan tentang bagaimana rentetan daftar ambisi atau keinginan yang ingin kuraih. Ambisi dan keinginan kemudian belum lagi tentang bagaimana sikap dan tindak-tanduk yang ingin diperbaiki.

Di masa-masa seperti ini, emosi sangat rawan untuk dipermainkan dan pikiran yang tidak jernih bisa kalap membuat keputusan. Hal yang paling melelahkan juga bahwa diri sendiri menutut hal yang lebih, lebih, dan lebih untuk tetap mempertahankan eksistensi diri. Ah..., hal seperti benar-benar menyebalkan. Mengapa sih, masa pencarian jati diri itu harus ada? Apakah ini karena pengaruh lingkungan baru ataukah ini karena masa adaptasi diri dengan umur? *Yah, seenggaknya ada yang nggak berubah di diriku pada proses perubahan ini yaitu, watak seriusku yang tetap saja kebawa ke manapun aku pergi. (-___-")*

Setiap orang butuh diakui oleh lingkungannya dan setiap orang juga butuh untuk menghargai dirinya sendiri. Terkadang, saat pencarian jati diri ini, diri kita merasa rendah, merasa ingin mencaci-maki diri sendiri, pikiran negatif dominan daripada pikiran positif, dan pandangan bahwa kita lebih buruk dari orang lain selalu membayang-bayangi. Bahkan, terkadang juga ini diikuti dengan sikap takut salah dan keterpaksaan untuk melakukan suatu hal yang tidak kita sukai, bahkan bukan kebiasaan yang kita lakukan.

Dalam masa perubahan ini, ada orang yang bersikap tenang-tenang saja atau bersikap santai, ada juga yang diseriusi seperti aku, ada juga yang memilih diam *pokoknya macem-macemlah sikapnya*. Yang jelas, di waktu seperti ini, kontrol diri sangat penting. Saat sedang merasa sendiri, atau merasa sangat tertekan, yang bisa kulakukan hanya satu, berjuang mati-matian di dalam pikiran untuk mensugesti diri ke arah hal yang positif. Saat diri sendiri terjebak di dalam pikiran negatif, terus terang saja, jiwa-raga rasanya juga sakit men-judge diri sendiri sebagai orang rendahan.

Ketika orang lain tidak bisa menyemangatimu, hanya diri kamu yang bisa menyemangati dirimu sendiri. Saat otang lain tidak bisa menghibur dirimu dan mengucapkan kata-kata positif, hanya kamu yang bisa memberikan sugesti positif untuk dirimu sendiri. Ini tentang dirimu, ini tentang diriku. Terkadang rasanya tidak nyaman meninggalkan kepribadian masa lalu tetapi, bila memang tujuannya positif, mengapa tidak?

Mari kita sama-sama berjuang dalam masa pencarian jati diri ini. \(^o^)/ *bagi yang sedang menjalani masa-masa ini*


bagi yang sudah, selamat! kamu sudah melewati masa-masa yang menyulitkan dan bersiaplah untuk masa pengembangan :)

Salam

-Cahaya Senja-

Kamis, 29 September 2011

Mengapa menulis?

Hai semuanya..., blog ini sepertinya sudah kutelantarkan selama berbulan-bulan alias nggak pernah keurus lagi sejak juni lalu. Yah..., lagi asyik-asyiknya sama kaskus dan dunia tuugas-tugas kuliah, jadi blog nggak terlalu diurus. hehehehehe....

catatan kali ini judulnya mengenai 'Mengapa Menulis?', berasa kayak judul buku aja atau nggak ya? Hmmm..., kayaknya dulu aku pernah nemu buku yang isinya tentang menulis buku itu menyenangkan, menulis itu nggak susah, dan lai-lain. (-___-"). Kalau aku sendiri..., jujur saja... aku nggak tahu menulis buku itu susah atau gampang. Karena..., bagiku... menulis yang menulis, nggak kupikirkan susah atau gampangnya (saking udah seneng sama pw sama hobi ini (^___^)). Mengapa menulis? Hmm..., mengapa ya? (malah balik tanya :nohope:---> salah satu emot kaskus :ngakak).
Aku mulai belajar menulis cerita sejak kelas 4 SD dulu. Waktu itu, cara penulisan ataupun pemilihan tokohku nggak seperti sekarang ini. Tahu tulisanku waktu SD dulu gimana? (jelas nggak tahulah! (--") gimana sih ni anak!). Waktu itu aku hanya menulis satu paragraf aja. Ceritanya pun tentang Pak Tani yang menangkap ikan di sungai, terus dapet ikan banyak banget, begitu pulang, ikannya langsung dikasih ke Bu Tangi terus beberapa di-bagiin ke tetangga. hahahaha..., singkat, pata dan jelas, beda sama cerita bikinanku sekarang (-___-"). Ada lagi cerita tentang trenggiling sama semut (di-ilhami dari cerita-cerita fabel yang sering aku baca waktu kecil). Haiih..., dan satu cerita lagi tentang apa ya? ah... aku lupa.

Menginjak kelas 5 SD, iseng-iseng aku pernah nerbitin koran pagi kecil sendiri yang terbuat dari buku tulis biasa dan terdiri dari 2 halaman terus ku fotokopi lalu kujual sama teman-temanku. Hahahaha..., untung sama ruginya kok besar ruginya (-__-). Di koran pagi itu sendiri, aku buat cerita-ceria dengan gambar, terus... kubuat juga cerita-cerita lain. (penulisnya aku, editornya aku, terus yang jualan juga aku :ngakak). Menginjak kelas 6 SD, terinspirasi dari kawan-kawan yang mau pisah dan ngelanjutin ke SMP lain, aku buat cerita petualangan di sebuah buku yang biasanya buat buku arisan (-__-"), sekarang bukunya kayaknya masih ada di rak bukuku. Masuk SMP, cara penulisanku pun berkembang lagi.

Dari kelas 4 SD sampai kuliah seperti ini, udah berapa tahun ya aku menekuni ini? hmm..., mungkin ada sekitar sepuluh tahunan ata sebelas ya? he....

Menulis itu... gampang-gampang susah. Gampangnya..., saat kita tahu ada bayangan seperti apa cerita yang kita buat ini. (biasanya ane girang n bersemangat banget kalau ada ide muncul di kepala (--")) Susahnya... :D, banyak juga, hehehehe..., susahnya... kalau misalnya kita lagi menggali ide tulisan kita tapi otak kita lagi buntu untuk mengolahnya. Jadinya..., makin bingung apa yang mau ditulis. Setelah itu, kadang mengatur setting cerita atau yang lebih ribet lagi, dengan alur meloncat-loncat. (aku biasa menulis dengan alur seperti ini). ALur meloncat-loncat memang menarik tetapi, terkadang kalau kita lupa dengan apa yang kiat tulis sebelumnya, malah kadang enggak nyambung dengan yang kita tulis setelahnya (aku pernah mengalami hal seperti ini. Setelah dibaca ulang, rasanya janggal banget ceritanya -__-"). Lalu..., belum lagi kritikan dari orang-orang sekitar :malu:, mending kalau kritikannya membangun..., lhah ini... sering juga aku dapat kritikan tajam yang menjatuhkan :hammer: (kadang sedih tapi kadang juga harus tebal muka dari kritikan semacam itu :nohope:). Belum lagi kalau ditolak berkali-kali oleh penerbit :malu:, (kalau yang ini emang kudu tebal muka :D).

Seringkali aku juga ditanya, mengapa sih... kok aku suka nulis?

Bener-bener dah..., ini pertanyaan paling membingungkan yang harus kujawab. Mengapa aku suka nulis? aku juga nggak tahu kenapa. Aku hanya menyukainya, aku ngerasa senang waktu nulis, makanya... aku ngerasa enak-enak saja waktu nulis. Well..., kadang ada rasa sedih juga karena cerita ditolak oleh penerbit tetapi, itu bukan berarti harus putus asa dalam menulis :D. (aku berkali-kali mutung(marah) karena hal seperti ini tetapi balik lagi..., yah... berpikir positif dan lebih mengolah lagi cerita-cerita yang ingin disampaikan.). Yah..., bagi kalian yang suka nulis :D, asah terus kemampuan nulis dan kepekaan emosional kalian ya :D, siapa tahu... kelak... kalian jadi penulis buku yang bermanfaat bagi banyak orang :).

Ada seseorang yang mengatakan padaku seperti ini..., 'Tidak ada pelaut ulung yang datang dari laut yang tenang.'

aku rasa... kalian tahu maksud kata-kata di atas :D

Yah..., sekian catata singkat dariku. Malam semuanya :).

Salam Kedamaian,
-Cahaya Senja-

Kamis, 23 Juni 2011

catatan 19: Anjing Gila

Siang yang cerah sekaligus panas yang membakar. (-___-") udah sering merasakan panas, kalau pulang kampung malah jadinya kedingingan, hahahahah. Untuk yang menunggu mengenai lanjutan cerpennya, maaf ya, aku tunda dulu. Soalnya idenya mampet di pikiran (-___-"). Aih..., sekarang aku pengin cerita mengenai lingkungan tempatku tinggal. Aku menulis ini terinspirasi dari salah satu status fb temanku beberapa waktu yang lalu. wkwkwkwk...

Jadi begini..., aku tinggal di lingkungan perumahan. Bukan perumahan mewah sih (ngarepnya, hahaha..), hanya sekedar perumahan biasa (^___^) tapi cukup tenang dan seringnya.... sepi! :nohope: Andai aja di blog juga ada emot kaskus, :mewek, :hammer:. Nah..., salah seorang tetangga berlainan gang memelihara seekor anjing. Aku nggak tahu jenisnya sih, tapi... anjing ini kecil dan warnanya hitam, seringnya dipanggil Bleki. :ngakaks Namanya mirip sama nama anjing tetanggaku yang dulu. Bedanya cuma di awal doang, dia Bleki, yang dekat rumahku Pleki. Kok pada suka yang berakhiran Ki ya? :bingung:

Nah..., Si Bleki ini... paling membuat takut, istilah kerennya parno :nohope:, beberpaa mbak kosku. Aku... sendiri sebetulnya nggak terlalu takut (Soalnya waktu SD sering banget ngejekin anjing tetangga sebelah rumah. -___-" kurang kerjaan banget pas aku kecil dulu.), tapi berhubungan mereka selalu bikin aku kaget dan menghindar dari Bleki, akhirnya aku jadi ikutan takut juga. :hammer: Takut dikejar n digigit maksudnya.

Gara-gara itu tiap kali lewat depan rumah orang melihara Bleki, perasaan waswas selalu menghantui. Pernah aku lewat sana malam-malam, si Bleki bernyanyi riang eh... maksudnya menyalak ringan, langsung ngibrit sampe diketawain orang (orang apa orang ya? :bingung:). Pernah juga dengar suara derap kaki kecil, Aku kira itu Bleki yang malem-malem keluyuran trus keluar dari kandangnya trus sedang mengejar mangsa, nggak tahunya cuma suara rantai sepeda, orang yang baru aja lewat. Jiah...!! :nohope:, padahal aku udah siap-siap mau lari, nggak tahunya cuma salah mbedain suaranya aja.

Berdasarkan status fb teman dan pengalamanku waktu kecil dulu, ah... bukan berdasarkan ding, soalnya tuh status udah berbulan-bulan yang lalu. Sekedar saran untuk pembaca yang ingin menghindari kejaran anjing adalah
1. Lari
2. Nggak bisa lari? Paksain Lari dong! :ngakaks
3. Kalau nggak bisa dipaksain lagi, nunggu si empunya anjing manggil tuh anjing supaya nggak nggigiit kita. -___-" (tapi kalau nunggunya kelamaan yah... sama aja korban gigitan.)

Sekian, (^___^)
Cahaya Senja

Selasa, 03 Mei 2011

Catatan 18: Ngelantur (-___-")

Hai semuanya.... (^___^),
Lama nggak nulis di sini. Terakhir kali nulis kalau nggak salah hari Rabu. Hahahaha..., gara-gara kecanduan ngaskus akhir-akhir ini, blogku jadi nggak keurus kayak gini. (-___-"). Bagaimana kabar kalian? Sehatkah? Semoga sehat-sehat saja dan diterima amal ibadahnya di sisiNYA -ups...!! hehehe..., bercanda :Peace:-

Sesuai dengan judulnya, kira-kira aku pengin nulis apa yang kupikirkan di sini dengan bahasa yang...... ngelantur (-___-").

Pertama-tama, aku teringat ketika di rumahku mati lampu. Hmmm...., ini mah... gara-gara sambungan listriknya yang kagak beres. ALhamdulillah sekarang udah dibenerin. Pada waktu itu, posisi di malam hari. AKu sama seorang mbak kost-ku di rumah. Hujan pun turun. Akhirnya..., aku nitip makan dah ama mbak kost-ku yang lain. Jiah..., buat ngeramein suasana malam di kost yang sepi, aku nyetel MP3 keras-keras dan lagunya.... macem-macem sih. ADa lagu india, jepang, korea, rohani, inggris, dan lain-lain (saking banyaknya). Nah..., sewaktu itu, kira-kira saya ngikuti lagu apa, ya? -hem... mikir dulu-. Ah... kagak ingat saya. Nah..., saya terus nyanyi-nyanyi juga dengan pedenya sekalipun suara saya ini..... pas-pasan (-___-"). Akhirnya..., tanpa memperdulikan suara dengungan nyamuk yang ada di sekitar saya, saya pun mengikuti irama lagu tersebut sampai pada batas... ada seekor nyamuk masuk ke dalam mulut saya.

"Aih...!!!" Saya langsung tersedak seketika. Ckckckck...T___T", nasib sial! Penginnya nyanyi malah kesedak nyamuk. Mana tuh nyamuk susah dikeluarin dari tenggorokan lagi. Mbak kostku malah ketawa aja ngeliat aku terbatuk-batuk gara-gara keselek nyamuk.

Ada pelajaran yang bisa saya mabil dari sini:
1. kalau nyanyi, pastikan di sekitar saya tidak banyak nyamuk. Apalagi kalau mati lampu. Supaya... kagak keselek nyamuk lagi. -___-"
2. Jangan buka mulut terlalu lebar supaya nyamuk kagak terbang ke dalam mulut.
3. Ane kapok... nyanyi-nyanyi lagi pas mati lampu. T___T

Melantur membuat pembicaraan menjadi semakin tidak jelas dan memusingkan kepala yang udah pusing. Disarankan, jika anda tengah mengalami demam ngelantur kuadrat untuk diam sejenak dan.... Tidur?? Aih..., ngomong mulai tidak jelas.

Tanya kenapa??

Rabu, 27 April 2011

Catatan 17: Langitku

Aku tak bisa berucap, hanya termenung dan terdiam. Denting kecil itu terdengar samar di telinga, membuatku ingin memejamkan mata dan terlelap di dekatnya. Ah..., denting tiba-tiba terhenti. Aku mengangkat kepala dan memandang sekeliling. Sepi, sunyi, semua terasa gelap. Di mana suara itu? Kenapa suara itu menghilang?

Ah... semuanya kembali terasa hambar. Sepi, senyap, tak ada rasa. Rumit! Berkembang menjadi rumit atau... aku sendiri 'kah yang membuatnya menjadi rumit? Aku... tak mengerti. Denting itu... aku ingin mendengarnya kembali. Aku ingin terlelap bersamanya. Ya... satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah terlelap dalam kehidupan yang kadang membuatku merasa jenuh.

Langit... mengapa kau begitu sulit untuk kugapai? Mengapa kau begitu sulit untuk kucari? Banyak hal telah berlalu dan kau tak kunjung muncul di hadapanku. Tak tahukah kau... itu benar-benar menyiksaku? Merindu tanpa sebab, benci tanpa diminta, mencintai... tanpa bayangan. Aku ingin bertemu tapi aku pun takut. Banyak sekali dalam pribadi ini yang sulit dipahami oleh banyak orang.

Denting... tidurkanlah aku. Lelapkan aku pada kesendirianku. Biarkan aku tenggelam dalam gelapnya malam yang menyesakkan. Jangan pernah bangunkan aku dari kesedihanku. Biarlah dia terlunta-lunta mencari bagian dari dirinya yang hilang dan biarkan potongan kecil ini terkubur dalam kesunyian.

Begitu banyak orang yang dengan mudahnya mengatakan cinta. Namun... diri ini tak sanggup mengatakannya pada langit. Tak terlihat tetapi terasa. Kesedihan ini meresap dalam sanubari yang paling dalam. Aku menunggumu. Bangunkan aku dari lelap yang menyedihkan ini. Pecahkanlah denting pelelap yang memisahkan kita.

Langit... tahukah kau... bagaimana hakikat cinta itu yang sebenarnya?
Langit... tahukah kau... seperti apa rasa rindu yang membuat leherku tercekik?

Aku menginginkan dirimu. Aku merindukanmu. Namun, aku tahu... waktu di depanku masih gelap. Siapa yang berdiri di depanku... masih tak terlihat. Lembaran itu masih kosong. Belum ada.. yang membantuku mengisi kekosongan itu bersama-sama. Ceritaku... pada denting waktu yang berjalan.

Sabtu, 09 April 2011

Kasus 1: Sekolah Mafia atau Mafia sekolah?

Bayu berkali-kali geleng-geleng kepala ketika menonton berita di televisi yang menceritakan tentang tawuran yang terjadi di sekolahnya pagi tadi. Sampai sekarang, dikatakan bahwa anak-anak pelaku tawuran tersebut belum tertangkap karena begitu gesitnya mereka kabur ketika polisi mendekati areal kerusuhan. Ibunya yang ikut menonton peristiwa ini hanya bisa ber-istigfar karena kelakuan anak-anak muda itu. Ayah Bayu, yang sedang tugas, sempat menelepon ke rumah dan menanyakan kabar Bayu. Pria itu kelihatan lega mendengar kabar bahwa anak sulungnya baik-baik saja dan dalam keadaan sehat wa'alfiat.

Enjih menutup HP-nya setelah mendengar ceramah panjang lebar dari ibunya. Bapaknya juga sempat sms supaya dirinya jangan keluar dari kompleks area perumahan TNI sampai mereka nanti datang menjemput. Kedua Orangtuanya benar-benar
takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak jika Enjih berani keluar untuk saat ini. Situasi saat ini masih kurang menguntungkan untuk anak-anak dari sekolah Perketi Luhur (nama sekolah ini hanyalah fiktif belaka).

Budi baru saja selesai sms pada adik perempuannya untuk mengabari kepada Abah dan Emak kalau dirinya baik-baik saja. Lita, Rina, dan Edo juga kini bergabung bersama Enjih, Bayu dan Budi, satu jam setelah mereka dikabari untuk segera datang ke rumah Bayu.

Ketiga anak itu sudah berada lebih dulu di sekolah saat penyerangan berlangsung sehingga, ketika ketiga kawannya mengontak mereka untuk segera pergi dari sekolah, mereka bertiga langsung memutar otak supaya bisa keluar dari sekolah tanpa ketahuan oleh para penyarang. Akhirnya, dengan suatu kesulitan tingkat tinggi serta kemampuan yang benar-benar diusahakan, ketiganya meminjam kostum dari pihak teater dan pergi dari sekolah. Edo -> sebagai orang gila, Rina -> mahasiswa, dan... Lita -> preman nyasar (^__^"). Mereka bertiga betul-betul gugup dengan penyamaran mereka sendiri sekalipun alhamdulillah..., mereka bisa lolos dari kejaran para pelaku tawuran.

"Ah..., aku dapat alasannya...!!" seruan Edo membuat perhatian orang-orang yang ada di depan ruang TV beralih kepadanya. Kini, tinggal mereka berenam yang ada di ruangan itu. Ibu Bayu sudah beralih ke dapur untuk memasak. Adik-adik Bayu sendiri masih bersekolah.

"Alasan apa?" Lita menyerngitkan dahi, penasaran.
"Alasan siswa SMA AdiLuhung (ini juga nama fiktif) menyerang sekolah kita," Edo menunjukkan HPnya pada kawan-kawannya. Mereka berlima langsung mengerubungi pemuda itu dan satu per satu membaca sms di kota masuk HP Edo secara bergiliran.

"Aku punya kawan dekat di SMA AdiLuhung," Edo mulai menjelaskan bagaimana dia mendapat informasi ini. "Dia temanku di SD dan SMP. Katanya..., dia juga kaget ketika Gurunya memberitahukan pada mereka kalau ada beberapa kawan mereka yang menyerang SMA kita. Jujur, dia prihatin dengan peristiwa ini. Saat kutanyakan alasan kawan-kawannya menyerang kita, dia menjawab kalau itu karena mantan pacar pimpinan Geng Kapak Hitam (Nama yang di-ilhami dari geng Kapak merah (-__-")) direbut oleh salah satu siswa kelas XII sekolah kita. Entah namanya siapa. Nah, merasa tidak terima, harga dirinya terenggut atau apalah, karena si ketua geng pengin balikan dengan mantannya, makanya... tawuran ini terjadi."

"Hanya karena itu...!!!" Rina ternganga mendengar penjelasan rincinya.
"Ya Tuhan...!!! Waktu yang bisa dipakai untuk menuntut ilmu jadi terbuang gara-gara masalah seperti itu...!!!" Enjih kembali mengumpat. "Duh Gusti....!!! Paringano bedil...!! Rasane pengin nembak bocah-bocah kuwi...!!" pemuda itu mengumpat lagi, marah-marah.
"AKu tak habis mengerti..., kenapa mereka menyerang kita hanya karena masalah ini," Lita geleng-geleng kepala. "Mereka itu sebenarnya niat sekolah atau cuma mau pamer kekuatan saja?" ia juga ikut-ikutan mengumpat.

Edo cuma bisa mengangkat kedua bahunya. Pikirannya juga sama seperti kawan-kawannya. Ia tak habis mengerti..., mengapa mereka tega menyerang sekolah mereka? Hanya karena satu orang yang mereka incar, hampir seluruh anak-anak di sekolah Pekerti Luhur kena batunya.

Bayu diam. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Gimana nih, Yu?" Enjih menatap kawannya dengan tatapan ingin balas dendam. "Rasanya..., aku pengin memukuli mereka satu per satu." Ia kelihatan tidak sabar untuk melampiaskan amarahnya pada kawanan berandalan kecil itu.
"Tenang dulu, Njih," Bayu melirik kawannya. "Kalau kita menyerang mereka dengan cara yang sama seperti mereka, itu membuat kita sama rendahnya seperti mereka." Ia menarik nafas dalam-dalam. Aura kepemimpinannya menguat. "Aku ada ide untuk memberi 'pelajaran' terhadap mereka." seringai senyuman sinis terbentuk di wajahnya yang terlihat ramah.

"Wah..., kami jadi tidak sabar mendengarkan rencananya, Ndan," Budi ikut-ikutan tersenyum. Kalau Bayu sudah menampilkan senyum tersinisnya seperti ini, itu berarti... dia punya ide cemerlang untuk pemecahan masalah mereka.
"Oke, Ndan! Kita siap bekerja kok!" tutur Edo bersemangat. Ia kelihatan tidak sabar untuk memulai aksinya.

Bayu tetap tersenyum. Ia menepuk bahu kanan Enjih. "Tapi... kita tidak bisa bekerja sendirian," terangnya. "Kita... butuh bantuan 'beberapa pihak'."

Bersambung....

Senin, 04 April 2011

Kasus 1: Sekolahan...

Berkali-kali Enjih menguap pelan saat berjalan malas menuju sekolahannya di ujung kampung sana. Pemuda itu masih terlihat mengantuk. Hmm..., efek gara-gara main game semalaman dengan adiknya (-__-"), akhirnya... dia jadi ogah-ogahan berangkat ke sekolah seperti ini. Sekali-kali, dia juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya..., kedua matanya juga masih berat buat diajak menuntut ilmu bareng-bareng. Wah..., siraman air dari Ibunya rupanya kurang tuh :D. Hehehehe..., nggak bangun-bangun juga padahal alarm sholat subuh udah berbunyi berkali-kali, si Ibu pun ambil segayung air kemudian menyiram Enjih supaya tuh anak bangun sampai-sampai..., tuh anak megap-megap sambil teriak-teriak kebanjiran gara-gara kaget. (^0^) (salah satu cara yang dilakukan orangtua kalau anaknya bangun kesiangan -__-").

Sebuah tepukan keras di bahu membuat Enjih meringis. Pemuda itu menoleh ke samping kanannya dan ternyata si Budi sama Bayu udah berada di sampingnya.

"Kenapa kamu? Kelihatan males banget?" Budi menyerngitkan dahi melihat Enjih kembali menguap.

"Semalam aku main game bersama adikku," jawab Enjih. "Sampe jam 1 pagi."

"Kalau Ibuku tahu jam 1 aku belum tidur, sangat diyakinkan kalau esoknya, peralatan gameku bakal disita," timpal Bayu.

"Makanya..., jangan sampai tahu, dong," balas Enjih datar.

"Sudah ngerjain Tugas Matematika?" Budi kembali bertanya.

Enjih mengangguk pelan. "Pagi tadi."

"Hei..., semangat dikit, dong," Budi menyenggol lengan kanannya. "Masa' kamu mau
ngantuk seperti ini terus dari pagi sampai siang."

Enjih diam, tidak menanggapi. Kalau lagi bad mood seperti ini dia memang lebih suka diam, tanpa berkata-kata. Sebentar lagi mereka sampai di tikungan kemudian jalan besar. Menyeberang, sampailah mereka di sekolah. Namun, pandangan ketiga pemuda itu berubah menjadi heran melihat sekawanan anak-anak berseragam seperti mereka, lari terburu-buru, menjauh dari sekolah. Beberapa mobil, motor, serta orang-orang juga terlihat sibuk berbalik arah.

"Hei...!! Hei...!! Ada apa ini?" Bayu menghentikan salah satu dari anak-anak itu. Dari bet yang dijahit di lengan kanannya, Bayu tahu kalau mereka siswa kelas satu.

"Anu..., Kak..., mending Kakak bertiga cepat pergi...!!" jawabnya terburu-buru dengan badan gemetaran. "Sekolah diserang...!! Tawuran, Kak...!! Tawuran...!!" setelah berkata seperti itu, dia buru-buru pergi menyelematkan diri bersama kawan-kawannya.

"Tawuran?" Budi menyerngitkan dahinya. Masa' sih?, pemuda itu berlari kecil, menuju ke tikungan untuk melihat kondisi yang sebenarnya. Begitu melihat di ujung gang sana, ekspresi wajah Budi berubah menjadi ketakutan. Siswa dari sekolah lain tengah menyerbu sekolah mereka, menyerang anak-anak sekolah dengan batu. Beberapa siswa dari sekolah Budi juga mengadakan perlawanan. Mereka balik menyerang.

Beberapa di antara siswa dari sekolah lain melihat Budi tengah memandangi mereka. lima dari gerombolan siswa penyerang itu berteriak, menunjuk ke arah Budi. Pemuda itu gelagapan ketika siswa-siswa itu mengejarnya sambil membawa senjata tajam. Dia langsung memberi isyarat pada kawan-kawannya untuk lari. Pertamanya, Bayu dan Enjih masih biasa saja ketika melihat Budi berlari ke arah mereka. Namun, begitu melihat para pengejar Budi, nyali keduanya langsung menciut. Serta merta, mereka bertiga lari tunggang -langgang menyelamatkan diri.

"Ke mana kita pergi?!" seru Budi dengan wajah pucat pasi. Dia membayangkan kalau dirinya bakal babak-beluk dihajar habis-habisan oleh para berandalan sekolah itu. Apalagi... mereka membawa senjata tajam. Bisa mati dia!!!

"Ke rumahku saja...!!!" seru Bayu lantang. "Mereka tidak akan berani masuk ke kompleks perumahan TNI...!!!" Ia makin mempercepat larinya. Hmmm..., rupanya latihan fisik yang sellau ditekankan Ayahnya setiap pagi berguna juga.

Mereka bertiga terus dan terus berlari sampai akhirnya tiba di gerbang kompleks perumahan TNI. Begitu masuk ke dalam, para pengejar langsung berhenti mengejar mereka. Kelima berandalan itu terlihat takut begitu melihat simbol-simbol TNI di kawasan perumahan itu. Haaa..., memangnya mereka mau dihukum oleh bapak-bapak anggota TNI?? Menghajar anak-anak itu di sana sama saja mereka cari mati!! Setelah berunding sejenak, kelimanya memutuskan kembali bergabung bersama kawan-kawan mereka.

Sementara itu, Budi dan kedua temannya masih terus berlari sampai akhirnya mereka tiba di titik yang dianggap aman. Beberapa Ibu-Ibu yang sedang menyapu halaman, menyerngitkan dahi melihat anak-anak berseragam itu berlari ngos-ngosan macam itu. Beberapa bapak-bapak anggota TNI juga sepertinya keheranan melihat mereka.

"HISH...!!" Enjih mengumpat kesal. "Siapa sih mereka...?! Berani-beraninya mereka menyerang sekolah kita...?!" gerutunya sebal. Ia bisa menjamin, sekolah hari ini pasti diliburkan.

Budi berusaha mengatur pernafasannya. "Dari atribut seragam mereka..., aku rasa... mereka siswa..."

"Mereka bukan siswa," potong Bayu sengit. "Mereka itu berandalan tidak tahu aturan yang tidak punya peradaban...!!" gerutunya marah.

Budia diam sejenak. Ia membiarkan kedua kawannya marah-marah terlebih dahulu. Setelah keduanya lumayan tenang, baru Budi melanjutkan kata-katanya kembali. "Mereka sepertinya dari SMA XXXX. Aku kenal baik atribut seragam mereka."

"Ya Tuhan...!!" keluh Enjih kesal. "Apalagi yang mereka ributkan dari kita?" gigi-giginya bergemelutuk keras.

Budi mengangkat bahu, tidak tahu.

"Aku rasa..., kita harus cari tahu tentang masalah ini," tukas Bayu. "Bagaimana kalau sekarang juga kita berkumpul? Coba sms Rina, Edo, dan juga Lita. Minta mereka untuk datang ke rumahku secepat mungkin." perintahnya dengan logat yang khas.

Budi dan Enjih mengangguk mematuhi.

Bersambung....